Sunday, 12 July 2015

JANGANLAH MEMBALAS KEJAHATAN DENGAN KEJAHATAN, TETAPI KALAHKANLAH KEJAHATAN DENGAN KEBAIKAN.

ARTI MENUMPUKKAN BARA API DI ATAS KEPALA

Penulis dan Waktu Penulisan
Surat Roma ditulis oleh Paulus, dan dikirim kepada jemaat di Roma.  Menurut pendapat lama, surat Roma ditulis di Korintus atau Filipi, sebelum Paulus berlayar ke Troas.[1]  Dikatakan juga bahwa Paulus menulis Surat Roma pada akhir perjalanan misionaris yang ketiga, sekitar musim semi, yaitu tahun 57 sampai 58.[2]

Penerima Surat
Roma ditujukan kepada jemaat di Roma.  Dalam Roma 1:13;15:22, dijelaskan bahwa ia sudah beberapa kali berusaha untuk mengunjungi mereka, tetapi setiap kali selalu terhalang.  Ada kemungkinan bahwa jemaat yang ada di Roma tidak terlalu besar dan mungkin sebagian anggotanya adalah bukan Yahudi (1:13).  Asal-usul jemaat di Roma tidak pernah diketahui.[3]
Tujuan Penulisan
            Tujuan Paulus menuliskan Surat Roma adalah sebagai persiapan untuk menjadikan jemaat Roma sebagai pusat pelayanan seperti Antiokhia, Efesus, Filipi, dan kota-kota lain dimana Paulus pernah melayani.  Oleh karena itu, Paulus tidak terlalu menekankan perbaikan kesalahan seperti dalam Korintus, tetapi ia lebih menekankan tentanh kebenaran.  Paulus memberikan pandangan yang lebih lengkap dan sistematis tentang inti kristiani daripada surat-suratnya yang lain.  Surat Roma lebih bersifat mendidik.
Analisa Sastra
Konteks Luas
            Roma 1-3, Paulus menjelaskan makna dosa, yaitu  kenyataan bahwa semua orang sudah berdosa, baik orang Yahudi maupun orang non Yahudi.  Pasal 3 Paulus menyimpulkan bahwa keselamatan dan kebenaran hanya diperoleh berdasarkan iman.  Pasal 4-5 menjelaskan tentang kebenaran yang datang hanya oleh iman dan bukan perbuatan Hukum Taurat.  Pasal 6 menjelaskan tentang hidup bebas dari kuasa dosa, yaitu melalui kematian dan kebangkitan Kristus.  Pasal 7 menjelaskan tentang hidup bebas dari kuasa Hukum Taurat.  Pasal 8 tentang hidup dalam Roh dan hidup penuh dengan pengharapan sebagai anak-anak Allah. 
            Di pertengahan surat Roma, yaitu pasal 9-11, Paulus berbicara tentang bangsa Israel, umat pilihan Allah.  Dijelaskan bahwa umat Allah terdiri dari orang Yahudi dan non Yahudi, yang semuanya dipersatukan menjadi satu umat pilihan Allah, satu bangsa yang kudus.   
Konteks Sempit
            Roma 12:20 terletak pada pembahasan topik Persembahan Yang Benar.  Dengan semua kebenaran injil yang sudah dijelaskan pada pasal 1-11, maka pada pasal 12 Paulus menganjurkan umat Tuhan untuk hidup berpadanan dengan injil, yaitu mempersembahkan tubuh sebagai korban persembahan yang hidup (12:1-2).  Roma 13 menjelaskan bagaimana menjadi anggota masyarakat yang tunduk kepada pemerintah dengan taat kepada otoritas dan membayar pajak, sebagai cerminan orang-orang yang sudah mengalami kebenaran injil tersebut.
Struktur Kata
Tetapi,
jika
seterumu lapar,
berilah dia makan,
jika
ia haus,
berilah ia minum!
Dengan
berbuat demikian
kamu
menumpukkan bara api
di atas
kepalanya.
Studi Eksegesis
Ayat
“Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan, jika ia haus, berilah ia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.”
            Menumpukkan bara api di atas kepala adalah hal yang membingungkan.  Frase ini diletakkan di akhir dari nasihat Paulus mengenai hidup di dalm kasih.  Kata “ menumpukkan” dalam bahasa aslinya adalah σωρεΰσεις, yang berasal dari kata dasar σωρεΰω, yang berarti to pile up, to heap.[4]  Hasan Sutanto juga memberikan arti yang sama yaitu “menumpukkan, menyarati”,  yang hanya didapati sebanyak dua dalam Perjanjian Baru (Rm 12:20; 2 tim 3:6).[5]  Kata σωρεΰσεις memiliki bentuk future indikatif aktif yang memiliki pengertian bahwa sesuatu dilakukan secara berulang-ulang dan memiliki dampak masa yang akan datang. 
            Hal kedua yang penting dalam teks ini adalah frase “bara api”, yang mengikuti kata “menumpukkan”.  Kata bara api dalam bahasa aslinya adalah άθρακαζ, yang berarti coal.[6]  Sementara itu, Hasan Sutanto memberikan arti yang sama, yaitu arang api.[7]  Api yang dimaksud disini adalah api yang besar seperti api unggun, yang akan membakar.  Kata “api” dalam hal ini muncul sebanyak 71 kali yang selaras dengan Matius 3:10;18:8;Lukas 3:17, yang memiliki arti sebagai penghukuman.[8]  Hal ini juga sering menggambarkan kekudusan Allah dan murkanya terhadap segala dosa dimana puncak ini dinyatakan dalam neraka. 
            Frase “menumpukkan bara api” sesuai dengan penelitian di atas, memiliki arti menumpukkan, menyarati api yang besar.  Dalam hal ini api yang besar adalah penghukuman.  Jadi, kata menumpukkan bara api berarti menumpukkan penghukuman.  Penghukuman yang dimaksud adalah penghukuman Allah.  Dalam hal ini berarti seseorang yang tidak memberikan pembalasan kepada orang berbuat jahat kepadanya, maka ia sedang mengijinkan atau memberikan tempat bagi Allah untuk memberikan penghukuman baginya (ayat 19).
            Dalam hal ini, Paulus sedang menasihatkan jemaat di Roma untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi hidup dalam perdamaian dengan semua orang (ayat 17 dan 18).  Hal inilah yang dimaksud Paulus hidup di dalam kasih yang tidak pura-pura, dimana jemaat diajarkan untuk memberkati siapa saja yang menganiaya mereka.  dengan melakukan seperti ini, maka jemaat  di Roma sedang mengijinkan Allah yang  akan membalas atas aniaya yang mereka alami dari orang-orang Roma.
            Th van den End memberikan penafsiran yang sama dengan yang di atas.  Ia mengatakan bahwa api melambangkan hukuman Allah.[9]  Penghukuman Allah dalam hal ini adalah penghukuman yang positif.  Dikatakan positif karena hanya Allah yang paling layak menghukum manusia.  Dengan berbuat baik kepada musuh, berarti memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertobat.  Dengan memberi makan dan minum kepada seteru atau musuh adalah salah satu cara untuk mendorong mereka memanfaatkan kesempatan untuk bertobat.  Dengan demikian, orang Kristen menjadi pengikut Kristus yang sebenarnya. 
            Manfred T. Brauch memberikan pendapat bahwa “menumpukkan bara api” harus dipahami sebagai tindakan yang baik, tindakan yang mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.  Arti dari kalimat ini dipertegas lagi oleh konteks bacaan dalam Amsal 25:21-22, yang ditutup dengan kalimat, “ Dan Tuhan akan membalas itu kepadamu.”  Dan dalam Perjanjian Lama, ganjaran dari Allah selalu dipandang sebagai jawaban terhadap perbuatan manusia yang baik.  Dalam analisa konteks ini menunjukkan bahwa gambaran “bara api” pasti memiliki arti yang positif.  Ayat 12:2 secara tidak langsung menyatakan bahwa gambaran bara api mengacu kepada “mengalahkan” kejahatan.[10]
Kesimpulan
            Berdasarkan penelitian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa “menumpukkan bara api” memiliki arti penghukuman Allah.  Penghukuman Allah yang dimaksud adalah penghukuman yang baik.  Disebut penghukuman baik karena Allah yang paling adil dan paling mengetahui dalam memberikan hukuman.  Hal kedua adalah untuk memberikan kesempatan kepada seseorang untuk bertobat melalui kebaikan orang percaya.  Dengan demikian, orang percaya menjadi pengikut Kristus yang sesungguhnya.

















[1] Merril C. Tenney, Survey Perjanjian Baru (Malang: Gandum Mas, 2003), 375.
[2] Alkitab Penuntun Hidup Hidup Berkelimpahan (Malang: Gandum Mas, 2008), 1832.
[3] Tenney, 375.
[4]Cleon L. Rogers JR dan Cleon L. Rogers III, The New Linguistic and Exegetical Key To The Greek New Testament (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1998 ), 340.
[5] Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru Jilid II (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2003), 743.
[6] Rogers, 340.
[7] Hasan sutanto, 75 dan 689.
[8] Ibid.,689.
[9] Th. Van den End, Tafsiran Alkitab: Surat Roma (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 690.
[10] Manfred T. Brauch, Ucapan Paulus Yang Sulit (Malang: Literatur SAAT, 2009), 75.