ARTI MENUMPUKKAN BARA API DI ATAS KEPALA
Penulis
dan Waktu Penulisan
Surat Roma ditulis oleh Paulus, dan dikirim kepada jemaat di
Roma. Menurut pendapat lama, surat Roma
ditulis di Korintus atau Filipi, sebelum Paulus berlayar ke Troas.[1] Dikatakan juga bahwa Paulus menulis Surat
Roma pada akhir perjalanan misionaris yang ketiga, sekitar musim semi, yaitu
tahun 57 sampai 58.[2]
Penerima Surat
Roma ditujukan kepada jemaat di Roma. Dalam Roma 1:13;15:22, dijelaskan bahwa ia
sudah beberapa kali berusaha untuk mengunjungi mereka, tetapi setiap kali
selalu terhalang. Ada kemungkinan bahwa jemaat yang ada di Roma
tidak terlalu besar dan mungkin sebagian anggotanya adalah bukan Yahudi
(1:13). Asal-usul jemaat di Roma tidak
pernah diketahui.[3]
Tujuan Penulisan
Tujuan Paulus menuliskan Surat Roma
adalah sebagai persiapan untuk menjadikan jemaat Roma sebagai pusat pelayanan
seperti Antiokhia, Efesus, Filipi, dan kota-kota lain dimana Paulus pernah
melayani. Oleh karena itu, Paulus tidak
terlalu menekankan perbaikan kesalahan seperti dalam Korintus, tetapi ia lebih
menekankan tentanh kebenaran. Paulus
memberikan pandangan yang lebih lengkap dan sistematis tentang inti kristiani
daripada surat-suratnya yang lain. Surat
Roma lebih bersifat mendidik.
Analisa Sastra
Konteks Luas
Roma 1-3, Paulus menjelaskan makna
dosa, yaitu kenyataan bahwa semua orang
sudah berdosa, baik orang Yahudi maupun orang non Yahudi. Pasal 3 Paulus menyimpulkan bahwa keselamatan
dan kebenaran hanya diperoleh berdasarkan iman.
Pasal 4-5 menjelaskan tentang kebenaran yang datang hanya oleh iman dan
bukan perbuatan Hukum Taurat. Pasal 6
menjelaskan tentang hidup bebas dari kuasa dosa, yaitu melalui kematian dan
kebangkitan Kristus. Pasal 7 menjelaskan
tentang hidup bebas dari kuasa Hukum Taurat.
Pasal 8 tentang hidup dalam Roh dan hidup penuh dengan pengharapan
sebagai anak-anak Allah.
Di pertengahan surat
Roma, yaitu pasal 9-11, Paulus berbicara tentang bangsa Israel , umat pilihan Allah. Dijelaskan bahwa umat Allah terdiri dari
orang Yahudi dan non Yahudi, yang semuanya dipersatukan menjadi satu umat
pilihan Allah, satu bangsa yang kudus.
Konteks Sempit
Roma 12:20 terletak pada pembahasan
topik Persembahan Yang Benar. Dengan
semua kebenaran injil yang sudah dijelaskan pada pasal 1-11, maka pada pasal 12
Paulus menganjurkan umat Tuhan untuk hidup berpadanan dengan injil, yaitu
mempersembahkan tubuh sebagai korban persembahan yang hidup (12:1-2). Roma 13 menjelaskan bagaimana menjadi anggota
masyarakat yang tunduk kepada pemerintah dengan taat kepada otoritas dan
membayar pajak, sebagai cerminan orang-orang yang sudah mengalami kebenaran
injil tersebut.
Struktur Kata
Tetapi,
jika
seterumu lapar,
berilah dia makan,
jika
ia haus,
berilah ia minum!
Dengan
berbuat demikian
kamu
menumpukkan bara
api
di atas
kepalanya.
Studi Eksegesis
Ayat
“Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia
makan, jika ia haus, berilah ia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.”
Menumpukkan bara api di atas kepala
adalah hal yang membingungkan. Frase ini
diletakkan di akhir dari nasihat Paulus mengenai hidup di dalm kasih. Kata “ menumpukkan” dalam bahasa aslinya
adalah σωρεΰσεις, yang berasal dari
kata dasar σωρεΰω, yang berarti to pile up, to heap.[4] Hasan Sutanto juga memberikan arti yang sama
yaitu “menumpukkan, menyarati”, yang
hanya didapati sebanyak dua dalam Perjanjian Baru (Rm 12:20; 2 tim 3:6).[5] Kata σωρεΰσεις
memiliki bentuk future indikatif aktif yang memiliki pengertian bahwa sesuatu
dilakukan secara berulang-ulang dan memiliki dampak masa yang akan datang.
Hal kedua yang penting dalam teks
ini adalah frase “bara api”, yang mengikuti kata “menumpukkan”. Kata bara api dalam bahasa aslinya adalah άθρακαζ, yang berarti coal.[6] Sementara itu, Hasan Sutanto memberikan arti
yang sama, yaitu arang api.[7] Api yang dimaksud disini adalah api yang
besar seperti api unggun, yang akan membakar.
Kata “api” dalam hal ini muncul sebanyak 71 kali yang selaras dengan
Matius 3:10;18:8;Lukas 3:17, yang memiliki arti sebagai penghukuman.[8] Hal ini juga sering menggambarkan kekudusan
Allah dan murkanya terhadap segala dosa dimana puncak ini dinyatakan dalam
neraka.
Frase “menumpukkan bara api” sesuai
dengan penelitian di atas, memiliki arti menumpukkan, menyarati api yang
besar. Dalam hal ini api yang besar
adalah penghukuman. Jadi, kata
menumpukkan bara api berarti menumpukkan penghukuman. Penghukuman yang dimaksud adalah penghukuman
Allah. Dalam hal ini berarti seseorang
yang tidak memberikan pembalasan kepada orang berbuat jahat kepadanya, maka ia
sedang mengijinkan atau memberikan tempat bagi Allah untuk memberikan
penghukuman baginya (ayat 19).
Dalam hal ini, Paulus sedang
menasihatkan jemaat di Roma untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan,
tetapi hidup dalam perdamaian dengan semua orang (ayat 17 dan 18). Hal inilah yang dimaksud Paulus hidup di
dalam kasih yang tidak pura-pura, dimana jemaat diajarkan untuk memberkati
siapa saja yang menganiaya mereka.
dengan melakukan seperti ini, maka jemaat di Roma sedang mengijinkan Allah yang akan membalas atas aniaya yang mereka alami
dari orang-orang Roma.
Th van den End memberikan penafsiran
yang sama dengan yang di atas. Ia
mengatakan bahwa api melambangkan hukuman Allah.[9] Penghukuman Allah dalam hal ini adalah
penghukuman yang positif. Dikatakan
positif karena hanya Allah yang paling layak menghukum manusia. Dengan berbuat baik kepada musuh, berarti
memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertobat. Dengan memberi makan dan minum kepada seteru
atau musuh adalah salah satu cara untuk mendorong mereka memanfaatkan
kesempatan untuk bertobat. Dengan
demikian, orang Kristen menjadi pengikut Kristus yang sebenarnya.
Manfred T. Brauch memberikan
pendapat bahwa “menumpukkan bara api” harus dipahami sebagai tindakan yang baik,
tindakan yang mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Arti dari kalimat ini dipertegas lagi oleh
konteks bacaan dalam Amsal 25:21-22, yang ditutup dengan kalimat, “ Dan Tuhan
akan membalas itu kepadamu.” Dan dalam
Perjanjian Lama, ganjaran dari Allah selalu dipandang sebagai jawaban terhadap
perbuatan manusia yang baik. Dalam
analisa konteks ini menunjukkan bahwa gambaran “bara api” pasti memiliki arti
yang positif. Ayat 12:2 secara tidak
langsung menyatakan bahwa gambaran bara api mengacu kepada “mengalahkan”
kejahatan.[10]
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa “menumpukkan bara api” memiliki arti penghukuman
Allah. Penghukuman Allah yang dimaksud
adalah penghukuman yang baik. Disebut
penghukuman baik karena Allah yang paling adil dan paling mengetahui dalam
memberikan hukuman. Hal kedua adalah
untuk memberikan kesempatan kepada seseorang untuk bertobat melalui kebaikan
orang percaya. Dengan demikian, orang
percaya menjadi pengikut Kristus yang sesungguhnya.
[1] Merril C. Tenney, Survey
Perjanjian Baru (Malang :
Gandum Mas, 2003), 375.
[2] Alkitab Penuntun Hidup Hidup
Berkelimpahan (Malang: Gandum Mas, 2008), 1832.
[4]Cleon L. Rogers JR dan Cleon L. Rogers III, The New Linguistic and Exegetical Key To The Greek New Testament (Grand
Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1998 ), 340.
[5] Hasan Sutanto, Perjanjian
Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru Jilid II (Jakarta: Lembaga
Alkitab Indonesia, 2003), 743.
[6] Rogers ,
340.
[7] Hasan sutanto, 75 dan 689.
[8] Ibid.,689.
[9] Th. Van den End, Tafsiran
Alkitab: Surat Roma (Jakarta :
BPK Gunung Mulia, 2008), 690.
[10] Manfred T. Brauch, Ucapan
Paulus Yang Sulit (Malang :
Literatur SAAT, 2009), 75.