Thursday, 31 October 2024

makananmmannan

 



makananannannam


makaannamamnna
mamkananan
makananam
\mamakanana
makananna
mamnakkkana

mamama

KONSEP KESELAMATAN DALAM YESUS KRISTUS MENURUT DOKTRIN SOTERIOLOGI


KONSEP KESELAMATAN DALAM YESUS KRISTUS MENURUT DOKTRIN SOTERIOLOGI

Pendahuluan

Keselamatan merupakan inti dari ajaran Kristen, menjadi jembatan antara Allah dan umat manusia yang terpisah oleh dosa. Dalam konteks ini, soteriologi, atau studi tentang keselamatan, memberikan pemahaman yang mendalam mengenai bagaimana Allah bekerja untuk menyelamatkan manusia melalui Yesus Kristus. Konsep keselamatan tidak hanya berkaitan dengan pengertian teologis, tetapi juga melibatkan pengalaman hidup yang membawa transformasi bagi setiap individu.

Dalam berbagai penafsiran, keselamatan dapat dipahami dari berbagai perspektif. Soteriologi menjelaskan keselamatan sebagai sebuah proses dan anugerah yang melibatkan iman, pertobatan, dan pengampunan. Selain itu, pemahaman tentang keselamatan juga dapat ditemukan dalam konteks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang masing-masing memberikan wawasan unik mengenai hubungan Allah dengan umat-Nya.

Latar belakang dan sejarah keselamatan menjelaskan bagaimana dosa asal dan akibatnya menciptakan kebutuhan mendesak bagi penebusan. Yesus Kristus, sebagai sumber keselamatan, berperan penting dalam karya penebusan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Hasil keselamatan ini tidak hanya menawarkan pengampunan, tetapi juga kehidupan baru bagi orang percaya. Dengan memahami proses keselamatan, kita dapat lebih menghargai anugerah yang diberikan dan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Tujuan Penulisan

Pada pembahasan makalah ini bertujuan untuk membahas pemaparan tentang "Keselamatan dalam Yesus Kristus Menurut Doktin Soteriologi" adalah untuk memberikan pemahaman yang mendalam mengenai berbagai aspek keselamatan menurut perspektif teologi Kristen.

Pengertian Keselamatan dari berbagai Penafsiran
Istilah ‘keselamatan’ dalam KBBI mempunyai kata dasar ‘selamat, dan mempunyai

arti sebagai terbebas atau terhindar dari bahaya, malapetaka, bencana, bencana, tidak kurang suatu apa, tidak mendapat gangguan pun kerusakan. Arti lain kata ‘selamat’ mencakup kesehatan, pencapaian tujuan, serta harapan akan kesejahtraan dan keberuntungan. Dari kata dasar ini, lahir istilah “keselamatan,” yang merujuk pada kondisi aman, sejahtra, bahagia, dan hal- hal serupa.1

Menurut Jonar T.H Situmorang, membahas tentang doktin keselamatan bagaimana soteriologi didefinisikan sebagai pengajaran tentang keselamatan yang dilakukan oleh Allah melalui Yesus Kristus.2 Sedangkan menurut Louis B dalam bukunya “Teologi Sistematika” dalam mendefinisikan isi dari soteriologi, dikatakan bahwa keselamatan adalah karya-karya penebusan Allah.3 Dilanjutkan menurut Markus Suyadi, Keselamatan merupakan tindakan Allah yang melepaskan atau membebaskan umat-Nya dari berbagai hal yang dapat mengancam nyawanya, seperti penyakit, musuh, dan bencana, serta memberikan perawatan setelah mereka terhindar dari bahaya tersebut.4

Sementara itu, Charles C. Ryrie dalam bukunya “Teologi Dasar 2” menafsirkan keselamatan dari dua sudut pandang: pertama, dari sudut pandang Allah, keselamatan meliputi segenap karya Allah dalam membawa manusia keluar dari hukuman menuju pembenaran, dari kematian ke kehidupan kekal, dari musuh menjadi anak; kedua, dari sudut pandang manusia, keselamatan mencakup segala berkat yang berada di dalam Kristus, yang bisa diperoleh dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan yang akan datang.5

1Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Keselamatan” [artikel online] https://kbbi.web.id/selamat, [diakses] 08 Oktober 2024

2 Jonar T.H Situmorang, Soteriologi Doktrin Keselamatan: Pengajaran Mengenai Karya Allah Dalam Keselamatan (Yogyakarta: ANDI, 2015), 3.

3 Louis Berkhof, Teologi Sistematika Volume 4: Doktrin Keselamatan (Momentum Christian Literature, 2008), 6.

4 Marlon Christian Tirayoh et al., “Pandangan Teologi Terhadap ‘Doktrin Keselamatan’ Menurut Pandangan Kristen,” Indonesian Culture and Religion Vol:1. No, no. Indonesian Culture and Religion Issues (2024): 3.

5 Charles C. Ryrie, Teologi Dasar 2 (Yogyakarta: Andi, 2017), 32–33.

Menurut pandangan tentang keselamatan tentang keselamatan (soteriologi) di atas, keselamatan merupakan tindakan Tuhan yang membebaskan umat-Nya dari segala hal yang dapat membahayakan jiwa mereka. Pembebasan dan perlindungan ini hanya berasal dari Allah. Keselamatan ini meliputi semua berkat yang ada di dalam Kristus, yang dapat dinikmati baik di kehidupan sekarang maupun di kehidupan yang akan datang.6

Pengertian Keselamatan Sebagai Soteriologi
Soteriologi merupakan teologi yang mempelajari doktrin keselamatan, terutama

terkait dengan bagaimana manusia diselamatkan. Kata Soteriologi beraral dari bahasa Yunani Soterios (σωτήριος) yang berasal dari dua kata yaitu: sótér (ζωτήρ) yang berarti penyelamat atau melepaskan dari bahaya kehancuran dan kata kedua ialah kata logia (λόγια) yang memiliki arti perkataan atau ucapan, sehingga terciptalah kata Soterios (ζωηήριον) yang berarti keselamatan.7 Dengan demikian dari perspektif etimologi, istilah Soteriologi merujuk pada studi atau ajaran mengenai keselamatan manusia.

Keselamatan dalam Perjanjian Lama
Kata Keselamatan dalam Perjanjian Lama memakai beberapa kata, yaitu: pertama,

kata yasha. Yasha memiliki arti terbebas dari segala larangan, terlepas dari sifat-sifat buruk yang membawa orang jatuh ke dalam dosa. Di dalam Perjanjian Lama, kata yasha dipakai sebanyak 353 kali, seperti terdapat di Kel. 14:30; Ul. 33:29: I Sam. 17:47; 2 Sam. 22:3,36,47; Maz. 106: 10, dan lain sebagainya.8

Kata selanjutnya yang memiliki kesamaan dengan soteria dalam Perjanjian Lama dipakai dalam istila syalom’ yang berarti damai sejahtra, tidak ada musuh, berkat dan sehat.

6 Christian Tirayoh et al., “Pandangan Teologi Terhadap ‘Doktrin Keselamatan’ Menurut Pandangan Kristen,” 3.

7 Desti Samarenna, “Konsep Soteriologi Menurut Efesus 2:1-10,” FIDEI: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika" Vol 2, No. 2 Desember (2019): 248.

8 Philipus Pada Sulistya, “Konsep Keselamatan Dalam Perjanjian Lama,” Jurnal Pistis 11 (2013): 47.

Kata ‘syalom dipakai lebih dari 250 kali dalam Perjanjian Lama. Seperti terdapat di 1Raja 4:25; 2 Sam. 15:27, dan seterusnya.9

Keselamatan dalam Perjanjian Baru
Kata yang digunakan untuk keselamatan dalam Perjanjian Lama diatas dipakai untuk

anugrah keselamatan dari Allah dan Allah sendiri sebagai pelaku keselamatan. Sedangkan dalam Perjanjian Baru, istilah soteria secara khusus berakar dari kata Yunani, saos,yang memiliki kata dasar sozo, yang berarti ‘dilepaskan’, ;dilindungi dari bahaya’ (KPR 7:25; 27:31; Ibr. 11:7). Pengertian yang juga berhubungan dengan kata ‘sozo’ secara langsung dikutip dari teks Alkitab (Mark. 5:34; Yak. 5:15) yang artinya ‘sejahtra penuh’ atau sehat secara badani. Secara harfiah, dalam konteks agama, kata ini dapat diartikan sebagai “damai, sehat, sukacita, keselamatan, atau kesembuhan baik secara fisik maupun rohani (Luk. 4:18-19.10 Kata soteria yang digunakan dalam Perjanjian Baru, Contoh sebagai berikut: dalam Luk. 1:64,77; 19:9; Yoh. 4:22; Kis. 4:12, 13:26,47, 16:17; Rom. 1:16, 10:10, 11:11, 13:11; 2Kor. 1:6, 6:2; Fil. 1:19; Ibr. 1:14, 2:3,10, 5:9, 6:9, 9:29; 1Pet. 1:5,9-10; 2Pet. 3:15; Yud:3; Why. 7:10, 12:10, 19:1 dari keseluruhan ayat diatas merujuk pada keselamatan. Kata ini bermakna pernyataan bahwa Yesus Kristus merupakan sumber keselamatan, yang artinya siapa tinggal dalam Kristus akan di selamatkan.11

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa istilah soteriologi dalam Alkitab merujuk pada konsep keselamatan umat manusia yang hanya dapat diperoleh melalui Yesus Kristus. Menurut Richardson dalam karyanya, keselamatan yang diterima oleh manusia berasal dari Allah. Keselamatan itu dinyatakan bagi setiap orang percaya dan terlihat pada akhir zaman.12

9 Ibid.

10 Dkk Panca Parulian S, Stefanus R. Budiman, Pemahaman Dasar Tentang Teologi Sitematika (Bandung: STT INTI PRESS, n.d.), 97.

11 Panca Parulian S, Stefanus R. Budiman, 97. 12 Ibid.

Latar Belakang dan Sejarah Keselamatan
Pertanyaan penting yang perlu diajukan untuk memahami latar belakang dan sejarah

dibalik adanya keselamatan bagi umat manusia adalah: apa yang menjadikan keselamatan menjadi kebutuhan mendesak bagi semua orang? Oleh karena itu, kita tidak bisa langsung memberikan jawaban tanpa terlebih dahulu mengetahui siapa Allah, tujuan manusia diciptakan, dan apa yang terjadi pada manusia.

Allah Sang Pencipta
Allah adalah Pribadi yang berada dalam kekekalan. Allah tidak bergantung pada

apapun, sementara segala sesuatu bergantung pada-Nya. Segala sesuatu diciptakan oleh Allah, seperti yang tercantum dalam kitab Kejadian 1: 1-2:7. Dalam kejadian 2:7, dinyatakan bahwa “TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah.” Ini menegaskan bahwa dalam Kejadian 1 tersebut, Allah menciptakan bumi dan segala isinya. Kata “menciptakan” dalam bahasa Ibrani “bara,” bukan “asa.” “Bara” berarti menciptakan sesuatu dari ketiadaan menjadi ada, Sedangkan “Asa” adalah menjadikan sesuatu dari suatu bahan yang sudah ada.13

Tujuan Manusia Diciptakan
Catatan Alkitab mengenai sejarah penciptaan menjelaskan bahwa tujuan Allah

menciptakan manusia adalah agar mereka memiliki kuasa atas ikan- ikan di laut, burung- burung di udara, ternak, serta seluruh bumi dan semua binatang melata (Kej. 1:26). Dalam ayat 28, perintah untuk menaklukkan dan menguasai bumi dijelaskan lebih lanjut, sementara pasal 2:15 menekankan tanggung jawab untuk mengelola bumi. Dari ketiga ayat tersebut,

13 Sutriatmo, “Konsep Keselamatan Di Dalam Yesus: Ketaatan Pada Firman Versus Ketaatan Pada Perbuatan,” Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 2, Maret (2022): 6.

dapat disimpulkan bahwa Allah menciptakan manusia untuk menguasai dan melestarikan bumi serta isinya. Manusia ditetapkan sebagai wakil Allah yang seharusnya menjalankan tugas ini, tetapi kenyataannya, manusia sering gagal untuk hidup sesuai dengan tujuan Allah tersebut.14

Dosa Asal
Peristiwa kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa di Taman Eden, setelah

dipengaruhi oleh, bukanlah yang awal, melainkan kisah tentang masuknya dosa ke dalam dunia. Kisah ini dimulai dalam kitab Kejadian, yang mengajarkan bahwa Allah menciptakan makhluk yang disebut “manusia” (Kej. 1: 26-28). Manusia adalah ciptaan yang dibuat “segambar” dengan Allah. Salah satu makna dari “segambar” ini adalah bahwa manusia diberi “akal budi,” yang membedakannya dari hewan, tumbuhan, dan makhluk lainnya. dengan akal budi tersebut, manusia memiliki pikiran dan kehendak bebas.15

Allah menyediakan segala sesuatunya untuk kebutuhan hidup manusia di Taman Eden namun, dalam Kejadian 2:16-17 bahwa “Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia, “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari kau memakannya, pastilah engkau mati.” Hal ini terlihat jelas ketika Allah menempatkan Adam dan Hawa di taman Eden. Mereka diberikan kebebasan untuk menikmati semua hasil dari pohon dan tanaman di taman, kecuali buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, yang dilarang untuk dimakan (Kej. 3:2-3). Namun, manusia melanggar perintah tersebut, dan pelanggaran inilah dikenal sebagai dosa.16

14 Panca Parulian S, Stefanus R. Budiman, Pemahaman Dasar Tentang Teologi Sitematika, 98.

15 Helga Margareth, “Suatu Tinjauan Terhadap Kejatuhan Manusia Ke Dalam Dosa Berdasarkan Kejadian Pasal 3.",” Экономика Региона 4, no. 2 (2017): 119.

16 Panca Parulian S, Stefanus R. Budiman, Pemahaman Dasar Tentang Teologi Sitematika, 98.

Akibat Dosa
Sebelum kejatuhan Adam dan Hawa kedalam dosa sangatlah terlihat sempurna.

Keberadaanya penuh dengan keharmonisan, terlihat antara hubungan Allah dengan manusia.17 Namun Sejak kejatuhan manusia pertama jatuh dalam dosa, dosa itu menyebabkan perpecahan.18 Ada beberapa akibat dosa yang menyebabkan perpecahan yaitu:

Yang pertama, Hubungan manusia dengan Allah mengalami perpecahan yang membentuk jurang pemisah yang sangat dalam dan jauh Yes 59:1-3, yang kemudian hubungan manusia dengan sesamanya juga mengalami perpecahan, selalu mempersalahkan dan saling menuduh,memiliki keangkuhan dan gengsing dalam pengakuan, penyesalan, juga bertobat. Selain dari pada itu hubungan dengan alam juga tidak bersahabat lagi, setelah Alam semesta dikutuk, yang harus berjuang berat dalam mencari rezeki (Kej 3:17-19), dan juga hubungan manusia terhadap dirinya sendiri mengalami kemerosotan, semakin gampang lelah, sakit yang pada akhirnya mati (bd. Kej 3:19).19 Itu merupakan salah satu akibat dosa.

Yang kedua, Akibat dosa menghilangkan damai sejahtra atau ketenangan (Yes 48:22; Mazm 55:4-5; Mat 27:3-4; Roma 3:17).20 Yang ketiga, masih tetap dalam kesinambungan akibat dosa yang membawa kepada kesengsaraan. Manusia pertama Adam dan Hawa harus sengsara dikatakan, Hawa kesakitan peluh ketika melahirkan. Adam penuh dengan kesengsaraan dengan melakukan pekerjaan menyambung kehidupan melalu mencari rezeki. Dan Si ular pun tidak luput dari kesengsaraan, akibat ulahnya menggoda manusia sehingga yang kemudian mengakibatkan si ular berjalan menjalar dengan perutnya dan debu tanahlah makanannya.

17 Jonar T.H Situmorang, Soteriologi Doktrin Keselamatan: Pengajaran Mengenai Karya Allah Dalam Keselamatan, 33.

18 Ibid,
19 Ibid,
20 Ibid, 34

Semua manusia dan segala sesuatu sengsara atau menderita ketika dosa masuk ke dunia.21 Yang keempat, Terakhir akibat dari dosa membawa kematian. Kematian. Kematian ini terbagi menjadi tiga macam, yaitu: Kematian Fisik, kematian rohani, dan kematian kekal (bd Rm. 5:21; Ef, 2:1-5; Mat 10:28 25:41; 2Tes 1:9; Ibr. 10:31; Why. 14:11).22

Secara sederhana berfikir harafiah, kejatuhan Adam dan Hawa kedalam dosa, membuat semua manusia keturunan Adam dan Hawa hidup dalam dosa Roma 3:10-12, 23 yangpada akhirnya juga terpisah dengan Allah. Sebagai dampak karena melanggar perintah Allah dalam (Kej. 2:16-17). Dengan demikian manusia harus mengalami kematian kekal dan menerima upah dosa yaitu maut (Roma 6:23a).23 Sejak manusia jatuh ke alam dosa, semua orang telah berdosa. Dalam keadaaan yang penuh dosa, manusia sangat membutuhkan keselamatan.24

Yesus Kristus sebagai Sumber Keselamatan
Allah telah menyediakan penyelamat untuk membebaskan manusia dari hukuman dosa (Kej. 3:15). Dengan demikian, keselamatan merupakan inisiatif Allah bagi manusia,

bukan sebaliknya. Manusia tidak dapat menyelamatkan diri sendiri tanpa tindakan penyelamatan dari Allah. Manusia yang telah jatuh ke dalam dosa telah kehilangan kemuliaan Allah. Dalam konteks sejarah keselamatan yang disebut dalam kejadian 3:15, jelas bahwa keselamatan yang dimaksud adalah rencana Allah yang akan terwujud dalam pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib yang dihubungkan dengan (Yoh. 1:1).25

Janji keselamatan terwujud dalam diri Yesus Kristus, Anak Allah yang diberi tugas khusus untuk melaksanakan keselamatan. Dalam kisah kelahiran-Nya, Matius mencatat, “Dia

21 Ibid,
22 Ibid,
23 Panca Parulian S, Stefanus R. Budiman, Pemahaman Dasar Tentang Teologi Sitematika, 98.
24 Panca Parulian S, Stefanus R. Budiman, 98.
25 Sutriatmo, “Konsep Keselamatan Di Dalam Yesus: Ketaatan Pada Firman Versus Ketaatan Pada

Perbuatan,” 7.

akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Yesus memiliki kuasa untuk menyelamatkan karena Dia adalah Immanuel, yang berarti “Allah beserta kita” (Matius 1:21, 23). Dengan kedatangan-Nya ke dunia, Yesus Kristus membawa keselamatan bagi umat manusia dengan memperlihatkan kehadiran Allah yang nyata di tengah-tengah mereka. Melalui-Nya, dosa-dosa manusia dapat diampuni dan hubungan yang benar dengan Allah dapat dipulihkan.26

Keselamatan dalam Soteriologi Kristen adalah anugrah Allah yang bersumber melalui karya penebusan Yesus Kristus bagi semua umat manusia. Thiessen memaparkan hal yang sama dengan jelas yang mengatakan “Alkitab mengajarkan bahwa Allah telah menyediakan keselamatan melalui pribadi Putra-Nya. Sang Putra sudah diutus untuk menjadi manusia, mati ganti manusia, kemudian bangkit dari antara orang mati, naik kepada Allah Bapa, dan menghadap Allah atas nama orang percaya.27 Jadi jelaslah bahwa penebusan Yesus Kristus adalah perwujudan dari anugrah Allah bagi semua semua manusia berdosa di bumi, karena keberdosaan manusia menjadikan maut sehingga tidak bisa untuk menyelamatkan dirinya sendiri (Ef. 2:1). Untuk itulah manusia membutuhkan anugrah Allah supaya kembali dihidupkan dan melepaskan manusia dari konsekuensi dosa yang telah memisahkan kita dari Allah (Rm. 5:10; Ef. 1:7; 2Tim 1:9; Tit 3:5).

Anugrah di Dalam Alkitab
Istilah anugrah dalam Perjanjian Lama ialah “
Khesed”. Istilah ini digunakan kurang

lebih 250 kali dalam Perjanjian Lama.28 Sedangkan dalam Perjanjian Baru kaya anugrah berasal dari kata dasar “kharis” yang berarti sesuatu yang mendatangkan kepuasan dan

26 Eli Adil Telaumbanua, “Berita Keselamatan Dan Pengenapannya Dalam Diri Yesus Kristus,” Jurnal Christian Humaniora 6, no. 2 (2022): 7, https://doi.org/10.46965/jch.v6i2.2270.

27 David Eko Setiawan, “Refleksi Pastoral Terhadap Konsep Keselamatan Dalam Universalisme Ditinjau Dari Soteriologi Kristen,” FIDEI: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika 1, no. 2 (2018): 258, https://doi.org/10.34081/fidei.v1i2.8.

28 Jonar T.H Situmorang, Soteriologi Doktrin Keselamatan: Pengajaran Mengenai Karya Allah Dalam Keselamatan, 11.

menjamin sukacita. Kata “kharis dalam Perjanjian Baru digunakan 155 kali, beberapa contohnya (Luk. 1:3; 2:52; Kis. 11:23; Rm. 11:6; 4:15 dan sebagainya.29

Simpulannya kasih karunia tidak mengandung arti adanya kebaikan pribadi sehingga layak mendatangkan imbalan. Namun ini mengandung makna yang berkaitan dengan ketidakpantasan menerima pemberian dari pihak yang lebih tinggi kepada pihak yang lebih rendah. Dalam konteks anugerah ilahi yang diberikan kepada manusia, ini juga mencakup ide tentang perjanjian dan pemilihan.30

Hasil Keslamatan
Kematian Kristus bersifat substitusionari, yang berarti bahwa Kristus mati untuk

orang-orang berdosa dan mengambil tempat mereka. Dalam hal ini, Kristus berfungsi sebagai pengganti yang menanggung hukuman yang seharusnya ditanggung oleh orang-orang berdosa. Kesalahan-kesalahan mereka diperhitungkan kepada-Nya sedemikian rupa sehingga Ia mewakili mereka dengan menanggung hukuman tersebut. Setiap individu yang percaya kepada Yesus Kristus akan memiliki dosanya ditanggung oleh-Nya (1 Petrus 2:24; Ibrani 9:28). Kristus menjadi substitusi bagi semua yang percaya kepada-Nya.31

Kemudian penebusan bagi orang percaya berarti bahwa mereka dibeli dari pasar budak dosa dan dibebaskan dari ikatan dosa. Harga yang dibayarkan untuk kebebasan ini adalah kematian Yesus Kristus (1 Korintus 6:20; 7:23; Wahyu 5:9). Kata selanjutnya Dampak dari penerimaan karya penyelamatan Allah melalui penebusan Kristus adalah rekonsiliasi. Pada dasarnya, manusia yang berdosa adalah musuh Allah (Yesaya 59:1-2; Kolose 1:21, 22; Yakobus 4:4). Namun, melalui kematian Kristus, permusuhan dan murka Allah diangkat (Roma 5:10). Setiap individu yang percaya kepada Kristus akan didamaikan dengan Allah.32

29 Ibid, 12
30 Ibid, 13.
31 Setiawan, “Refleksi Pastoral Terhadap Konsep Keselamatan Dalam Universalisme Ditinjau Dari

Soteriologi Kristen,” 260. 32 Ibid,

Terakhir dampanya adalah Justifikasi bahwa orang percaya yang menerima karya penyelamatan Allah dibenarkan dalam Kristus. Mereka yang beriman kepada Yesus Kristus dinyatakan benar. Justifikasi melibatkan dua aspek: pengampunan dan pengangkatan semua dosa, serta mengakhiri keterpisahan dari Allah (Kisah Para Rasul 13:39; Roma 4:6-7; 2 Korintus 5:19). Proses ini juga mencakup pelimpahan kebenaran kepada individu yang percaya, yang berhak menerima semua berkat yang dijanjikan kepada orang benar.33

Proses Keselamatan
Setelah memahami janji keselamatan yang terwujud dalam diri Yesus Kristus, penting

untuk mengeksplorasi proses keselamatan itu sendiri. Dalam konteks ini, dua elemen utama yang menjadi fondasi, yaitu iman dan pertobatan.

Iman
Dalam Perjanjian Lama, kata "iman" digunakan dengan istilah "emunah," yang

diterjemahkan dalam Septuaginta sebagai "pisteuo," istilah yang juga digunakan dalam Perjanjian Baru. Kedua istilah ini memiliki makna dasar yang sama, yaitu "faith" atau "setia." Secara teologis, iman diartikan sebagai keteguhan hati seseorang untuk terus percaya kepada Tuhan, terlepas dari situasi apa pun dan kapan pun. Secara praktis, Alkitab mendefinisikan iman sebagai dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1). Iman adalah satu-satunya jalan untuk menghadirkan kasih kurnia Allah dalam kehidupan seseorang. Tanpa iman tidak ada seorang pun dapat diselamatkan.34

Pertobatan

33 Ibid,
34 Christian Tirayoh et al., “Pandangan Teologi Terhadap ‘Doktrin Keselamatan’ Menurut Pandangan Kristen,” 5.

Kata "pertobatan" berasal dari istilah Ibrani "nocham," yang berarti perasaan mendalam, baik perasaan menderita maupun perasaan terlepas dari sesuatu, serta istilah Yunani "metanoia," yang berarti berbalik arah. Pertobatan diartikan sebagai perubahan pikiran yang terjadi akibat pengetahuan yang diperoleh, yang meliputi penyesalan atas jalan hidup yang telah dijalani dan keputusan untuk mengikuti jalan hidup yang baru. Meninggalkan jalan hidup yang lama, yaitu kehidupan dalam dosa, dan beralih kepada jalan hidup yang baru, yaitu kehidupan dalam terang Kristus, adalah inti dari pertobatan. Pertobatan merupakan peristiwa yang wajib dialami oleh setiap orang yang ingin diselamatkan. Tuhan Yesus mengingatkan, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat" (Matius 4:17).35

Kesimpulan
Dapatlah disimpulkan dari seluruh pemaparan di atas bahwa konsep keselamatan

dalam Yesus Kristus, atau soteriologi, mengungkapkan karya penyelamatan Allah yang penuh anugerah bagi umat manusiaa yang terpisah oleh dosa. Melalui pemahaman mendalam tentang pengertian keselamatan dari berbagai penafsiran, kita dapat melihat bagaimana keselamatan tidak hanya bersifat individu, tetapi juga berakar dalam sejarah keselamatan yang diceritakan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Keselamatan dimulai dengan pengakuan akan dosa asal dan akibatnya, yang menciptakan kebutuhan mendesak untuk penebusan. Dalam hal ini, Yesus Kristus berfungsi sebagai sumber keselamatan yang melalui kematian dan kebangkitan-Nya menawarkan pengampunan dan rekonsiliasi dengan Allah. Hasil dari keselamatan ini mencakup justifikasi, yaitu pelimpahan kebenaran kepada orang percaya, serta kehidupan baru yang mengubah cara hidup dan pandangan mereka.

35 Christian Tirayoh et al., 6.

Proses keselamatan melibatkan iman, pertobatan, dan penerimaan akan anugerah Allah, yang merupakan langkah penting dalam hubungan yang benar dengan-Nya. Dengan demikian, pemahaman yang menyeluruh mengenai soteriologi tidak hanya memberikan pengetahuan teologis, tetapi juga menginspirasi transformasi spiritual dalam kehidupan sehari-hari setiap individu yang percaya. Keselamatan dalam Yesus Kristus adalah anugerah yang mengubah hidup dan mendatangkan harapan kekal bagi seluruh umat manusia.

Daftar Pustaka Charles C. Ryrie. Teologi Dasar 2. Yogyakarta: Andi, 2017.

Christian Tirayoh, Marlon, Yosep Anthonius, Retno Natanael, and Sarmauli. “Pandangan Teologi Terhadap ‘Doktrin Keselamatan’ Menurut Pandangan Kristen.” Indonesian Culture and Religion Vol:1. No, no. Indonesian Culture and Religion Issues (2024).

Jonar T.H Situmorang. Soteriologi Doktrin Keselamatan: Pengajaran Mengenai Karya Allah Dalam Keselamatan. Yogyakarta: ANDI, 2015.

Louis Berkhof. Teologi Sistematika Volume 4: Doktrin Keselamatan. Momentum Christian Literature, 2008.

Margareth, Helga. “Suatu Tinjauan Terhadap Kejatuhan Manusia Ke Dalam Dosa Berdasarkan Kejadian Pasal 3.".” Экономика Региона 4, no. 2 (2017).

Panca Parulian S, Stefanus R. Budiman, Dkk. Pemahaman Dasar Tentang Teologi Sitematika. Bandung: STT INTI PRESS, n.d.

Samarenna, Desti. “Konsep Soteriologi Menurut Efesus 2:1-10.” FIDEI: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika 2, no. 2 (2019):

Setiawan, David Eko. “Refleksi Pastoral Terhadap Konsep Keselamatan Dalam Universalisme Ditinjau Dari Soteriologi Kristen.” FIDEI: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika 1, no. 2 (2018): 250–69. https://doi.org/10.34081/fidei.v1i2.8.

Sulistya, Philipus Pada. “Konsep Keselamatan Dalam Perjanjian Lama.” Jurnal Pistis 11 (2013): 45–55. https://osf.io/zt65f/download/?format=pdf.

Sutriatmo. “Konsep Keselamatan Di Dalam Yesus: Ketaatan Pada Firman Versus Ketaatan Pada Perbuatan.” Jurnal Teologi Berita Hidup 4 (2022).

Telaumbanua, Eli Adil. “Berita Keselamatan Dan Pengenapannya Dalam Diri Yesus Kristus.” Jurnal Christian Humaniora 6, no. 2 (2022): https://doi.org/10.46965/jch.v6i2.2270.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Keselamatan” [artikel online] https://kbbi.web.id/selamat, [diakses] 08 Oktober 2024


Saturday, 10 April 2021

Ketika Keraguan Menghampiri

 Oleh: Pdt. Jein Katlin Wololi

Yohanes 20:24 – 29

Pendahuluan 

Setelah Yesus bangkit pada hari yang ke tiga, Yesus masih ada di bumi.  Ada jeda selama 40 hari sebelum Ia naik ke sorga.  Dan selama masa itu, Yesus berkali-kali menampakkan diri-Nya kepada para murid di berbagai-bagai tempat. 

Para saksi kebangkitan itu ada Maria Magdalena dan wanita-wanita lain, kesebelas murid Yesus, Tomas dan para murid, ketujuh murid yang sedang mencari ikan, dan kedua murid yg sedang dalam perjalanan menuju ke Emaus. 

Paulus mencatat dalam suratnya di Korintus para saksi kebangkitan Kristus itu ada Kefas/Petrus, keduabelas murid, lima ratus saudara, Yakobus, semua rasul dan Paulus sendiri.

Pada saat itu ada sekitar 500 lebih para saksi kebangkitan Kristus, dan para saksi menyaksikan sendiri bahwa Yesus itu benar-benar bangkit, sebab benar bahwa Yesus adalah kebangkitan dan hidup.

Sebelum para murid percaya bahwa itu adalah Yesus yang telah bangkit, mereka mengalami keraguan.  

Mereka lamban mengenal bahwa Yesus bangkit.  Padahal, saat Yesus masih hidup di bumi, Ia sudah 4 kali mengatakan bahwa Dia akan mati dan bangkit pada hari ketiga (Mat 16: 21; 17:22; 20: 17-19; 26:1-2)

Respon Murid 

Respon Maria = mayat Yesus telah dicuri.

Respon para murid = “Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu.” (Luk. 24:11). 

Respon semua murid ialah mereka terkejut dan birpikir itu adalah hantu (Luk. 24:37). 

Dan Tomas adalah murid yang paling lambat percaya.


Bacaan teks Alkitab

Yohanes 20:24 - 29

Bagian-bagian yang penting dari teks firman Tuhan, ketika keraguan menghampiri kita:


A. Keraguan turut mengahampiri orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan

Tomas bukan seorang peragu, meskipun ia pernah ragu

Fakta tentang Thomas 

a. Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: "Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.”  (Yoh. 11:16)

- Meskiupun ada nada pesimis, tapi Tomas sangat berkomitmen bahwa ia mau mati bersama Yesus.  Terlihat bahwa tidak ada kesan kalau Tomas meragukan Yesus.

b. Lalu, Tomas berkata kepada-Nya, "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi, bagaimana kami tahu jalan itu?” (Yoh. 14:5)

- Saat Yesus berkata bahwa Aku hendak pergi ke rumah Bapa, murid lainnya terdiam dan Tomaslah yang bertanya.

- Pertanyaan ini menyingkapkan bahwa ia mengasihi Yesus dan berkomitmen utk tetap berada bersama Yesus, kemana pun Yesus pergi.  Tidak ada kesan bahwa Tomas ragu.

Tomas seorang yang mengasihi Yesus, tetapi pernah meragukan Yesus.

Tokoh-tokoh besar dalam Alkitab yang pernah mengalami keraguan

Abraham (Kej. 15:8; 17:17)

Musa (Kel. 3-4)

Gideon (Hak. 6)

Imam Besar Zakharia (Luk. 1:18)

Yohanes Pembaptis (Mat. 11:3)

Petrus (Mat. 11:3)

Kenapa mereka bisa ragu? 

1. Karena keterbatasan sebagai manusia

Selalu mengukur pekerjaan Tuhan dengan logika kita

Merasa segala yang terjadi itu tidak masuk akal

2. Menggunakan kacamata jasmani 

Kacamata jasmani mengharapkan hal2 yg harus terjadi sesuai apa yg diharapkan

Selalu melihat realita yang tidak sesuai ekspetasi

3. Fokus kepada masalah

Kalau kita menfokuskan pandangan kita pada satu objek, maka objek itu yang akan menguasai kita pola piker kita.  

Kalau kita fokusnya kepada masalah, maka kita merasa bahwa Tuhan meninggalkan kita.

Dan Tomas memiliki ketiga unsur ini

Impostor syndrome adalah istilah psikologi untuk perilaku seseorang yang selalu merasa takut gagal dan meragukan kemampuannya.  Ironisnya, kondisi ini justru kerap dialami oleh mereka yang berprestasi.

Jangan mengukur cara kerja Tuhan menggunkan logika kita

Jangan memakai kacamata jasmani kita, sebab itu akan membuat kita kecewa.

Jangan fokus kepada masalah karena itu akan mempengaruhi pola pikir kita dan akhirnya kita mempertanyakan keberadaan Tuhan.


B. Janganglah engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah!

Alkitab berkata bahwa orang yang ragu itu sama dengan gelombang laut yang diombang-ambingkan kian kemari oleh angin.  Hidup yang ragu-ragu tidak akan mendapat apa-apa.  Tidak akan bahagia. Hanya buang-buang waktu. 

Yesus membiarkan Tomas dalam keragu-raguan selama 8 hari, untuk memberi kesempatan Tomas bertobat dari ketidakpercayaannya terhadap kebangkitan Yesus. 

Mata rohaninya tertutup, meskipun 10 murid sudah memberikan kesaksian kebangkitan Yesus.  Tomas tidak bertobat.

Yesus datang dan berkata “janganlah engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” 

Tomas memutuskan untuk percaya dan berkata “ya Tuhanku dan Allahku!” 


“Ya Tuhanku dan Allahku!”

Sebuah keyakinan yang kokoh

Pengakuan pertama dari semua para murid yang mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan

Pada saat itu, pengakuan seperti itu hanya akan ditujukan kepada kaisar.

Keraguan yang terus menerus akan meruntuhkan iman kita dan akhirnya membuat kita jatuh dalam dosa.  Tetapi ketika kita memilih menjadi percaya, maka kita akan diubahkan, dipulihkan dan mengalami lawatan Tuhan, sehingga kita berkata “Ya Tuhanku dan Allahku.”

Catatan sejarah mencatat Tomas menjadi misionaris pionis di Persia dan India.  Dia menjadi martir dengan cara duhujam dengan tombak.  Tanpa keraguan dia melayani Tuhan sampai akhir hidupnya.

C. S. Lewis

Lahir dari keluarga Kristen yang pada masa mudanya dia sempat meninggalkan Tuhan dan menjadi atheis. 

Meragukan Allah dan bertanya kalau Allah itu baik dan maha kuasa, mengapa begitu banyak dari makhluk ciptaan-Nya yang tidak gembira?”  Dll.

Percakapannya dengan J.R.R. Tolkien dan buku G.K. Chesterton memberinya jawab dan bukti kebenaran iman Kristen.  Ia kemudian berkata kepada Tolkien, “aku menyerah.  Aku mengaku Tuhan adalah Tuhan.”

Dia kemudian menjadi pembela iman terbesar pada abad 20 dan dikenal sebagai "rasul bagi kaum skeptis."

Apa pun keraguan kita, tetaplah datang kepada Tuhan.  Walaupun iman kita saat ini kecil, datang kepada Tuhan dan berkata, Tuhan tolonglah aku yang ragu ini. 

Yesus berkata berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya. Dua level atau dua tingkat percaya:

a. Percaya setelah melihat 

b. Percaya walau belum melihat

Mari kita menjdi tipe ke dua ini, karena walau belum melihat namun percaya merupakan ciri khas kehidupan orang percaya yang dewasa di dalam Tuhan.

Dengan menjadi percaya walau belum melihat, maka kita akan mengalami dan menikmati janji-janji Tuhan. 


Friday, 2 April 2021

Yesus Bangkit

 YOHANES 20:1-29

Tema : Dia Bangkit (Yohanes 20:1-29)

Tujuan :

1. BERDOA (3-5 MENIT)

Mari kita berdoa.

Bapa kami yang ada dalam Kerajaan sorga. Kami mengucap syukur buat anugerah-Mu yang begitu besar bagi kami. Terima kasih hari ini masih memberikan kesempatan bagi kami untuk beribadah,memuji, memuliakan nama-Mu serta mendengar firmanMu. Kiranya Engkau Allah hadir ditengah-tengah ibadah kami pada saat ini. Kami menyerahkan ibadah ini kedalam tangan kasih-Mu dan biarlah Engkau Allah bertahkta di atas puji-pujian kami. Dalam nama Yesus kami berdoa dan mengucap syukur, haleluya, amin.

2. BERMAZMUR (10-15 MENIT)

Kerahkanlah kekuatanMu ya Allah

Tunjukkanlah kuasaMu ya Tuhan

Serakkan musuhMu s'lamatkanlah umatMu

Allah dahsyat di tempat kudusNya

(Reef) Allah bangkit bersoraklah

       Allah bangkit bernyanyilah

             Musuh dikalahkan umatNya dibebaskan

              Allah dahsyat di tempat kudusNya

Kerahkanlah kekuatanMu ya Allah

Tunjukkanlah kuasaMu ya Tuhan

Serakkan musuhMu s'lamatkanlah umatMu

Allah dahsyat di tempat kudusNya

(Back to reef)

Pencipta lagu : Ir. Lucas H & Theresia Age

3. BACA FIRMAN (10-15 MENIT)

A. Teks Firman Tuhan (Yoh.20: 1-29)

Bacalah Firman Tuhan dari Yoh. 20: 1-29

B. Penjelasan Firman Tuhan:

Pada bagian firman Tuhan dalam pasal ini merupakan kelanjutan dari pasal 19. Bagian pasal 20 menceritakan tentang kebangkitan Yesus dan beberapa kali Ia menampakkan dirinya kepada murid-muridnya. Pada pasal 20:1-10 menjelaskan tentang kebangkitan Yesus yakni ketika masih pagi-pagi sekali Maria Magdalena pergi kubur Yesus untuk melihatnya. Namun, ketika ia sampai disana ternyata kuburnya sudah terbuka dan mayat Yesus sudah tidak ada. Akhirnya Maria yang dalam keadaan panik segera berlari untuk memberitahukan murid-murid Yesus yang lainnya tentang hal ini. Kemudian datanglah murid-murid yang lain ke kubur Yesus untuk memastikan kejadian tersebut benar adanya.

Yesus menampakan diri kepada Maria Magdalena

Akan tetapi, maria berdiri dekat kubur itu dan menangis dan sambil menangis ia menjenguk ke kubur itu. Tiba-tiba tampaklah baginya dua orang malaikat berpakaian putih yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus berbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: Ibu, mengapa engkau menangis? Jawab Maria kepada mereka: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu dimana ia diletakkan.” Setelah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya:” ibu mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari? Maria mengira bahwa orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya:”Tuan, jikalau tuan yang mengambil-Nya, katakanlah kepadaku, dimana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambul-Nya.” kemudian kata Yesus kepadanya:”Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani”Rabuni!”, artinya Guru. Akan tetapi Yesus berkata kepadanya:”Janganlah engkau menyentuh Aku, sebab belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-ku, kepada Allah-Ku dan Allahmu.

Kemudian Yesus juga menampakkan diri-Nya kepada murid-murid-Nya ketika mereka sedang berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba berdirilah Yesus ditengah-tengah mereka serta berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” sesudah berkata demikian Ia menunjukan tangan-Nya dan lambung-Nya kepda mereka dan mereka bersukacita melihat Tuhan. Maka Yesus berkata sekali lagi kepada mereka:”Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga Aku mengutus kamu.” Setelah itu Yesus juga menampakkan diri kepada Thomas yang disebut Didimus. ia tidak bersama-sama dengan murid-murid yang lainnya ketika Yesus menampakkan diri, sehingga ketika murid-murid itu memberitahukan bahwa mereka melihat Tuhan, ia tidak percaya. Oleh karena itu, ia berkata bahwa: sebelum aku melihat beka paku pada tangan-Nya dan mencucukkan tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”

Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu bersama dengan Thomas dan pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “ Damai sejahtera bagi kamu!” kemudian Ia berkata kepada Thomas:” Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tangamu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan janganlah engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah. Thomas menjawab Dia:”Ya Tuhanku dan Allahku!” kata Yesus kepadanya:” Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

 Renungan : Percayalah

Firman Tuhan yang baca diatas, kita diajarkan utuk selalu dan senantiasa percaya dengan segenap hati. Hal inilah yang sebenarnya terjadi pada teks Alkitab di atas yakni Murid-murid Yesus yang awalnya tidak percaya akan kebangkitan Yesus. Dalam kisah Maria Magdalena, Simon Petrus serta beberapa murid, mereka awalnya tidak percaya ketika melihat kubur Yesus yang telah kosong. Mereka bahkan berpikir bahwa “jangan-jangan mayat Yesus di ambil orang.”

Namun, semuanya berubah ketika Yesus memanggil Maria dan kemudian Maria berkata dalam bahasa Ibarani “Rabuni yang artinya Guru.” (ayat 20:16).

Bapak/ibu yang dikasihi oleh Tuhan kita Yesus Kristus, dalam kisah ini kita melihat dengan bagaimana respon Maria dan beberapa murid krtika melihat bahwa Yesus telah bangkit dari kematian. Mereka yang awalnya tidak percaya, menjadi percaya. Selain itu bapak/ibu kita juga melihat hal yang sama terjadi pada Thomas. Ia adalah salah satu dari murid Yesus yang tidak percaya, ketika para murid memberitahukan tentang kebangkitan-Nya. ia bahkan menuntut bukti yakni ia tidak akan percaya sebelum ia melihat bekas paku dan juga memasukan jarinya kedalam lambung-Nya. Hingga tibalah di waktu yang tepat ketika mereka sedang berkumpul disuatu rumah, datanglag Yesus. Distulah Ia, menunjukkan bekas paku di tangan-Nya dan di lambung-Nya barulah ia mau percaya.

Pertemuan Yesus dengan Thomas menjadikan memiliki iman yang sungguh-sungguh sekaligus melenyapkan keragu-raguan dalam dirinya, membangkitkan semangat hidupnya serta tekad kuat untuk berkarya bagi kemuliaan dan Kerajaan Allah. Dengan demikian, maukah kita membuka hati pada kebenaran firman Tuhan ini dan menjadi percaya sekali pun kita tidak melihatNya? Adalah lebih baik kita percaya pada janji Tuhan Yesus sekalipun kita tidak melihatNya lagi, karena Allah akan membukakan bagi kita mata batin untuk melihat perbuatan Tuhan yang besar. Kiranya Firman Tuhan ini menjadi berkat bagi kita sekalian. Amin.

 Ilustrasi

Ada seseorang wanita yang akan pergi berlibur ke luar pulau dan ia memilih menggunakkan pesawat. Wanita tersebut adalah pribadi yang sangat takut jika naik pesawat namun, ia memberanikan diri untuk naik pesawat tersebut dengan keyakinan bahwa sang pilot/pengemudi pesawat dapat membawanya hingga tempat tujuan dengan selamat. Walaupun dalam dirinya penuh dengan ketakutan dan juga ia tidak tahu, apakah pilot yang mengemudi pesawat tersebut adalah pilot yang sudah handal. Namun, ia tetap percaya pada pilot tersebut. Dari kisah ini, kita belajar bahwa wanita tersebut percaya walaupun ia tidak tahu bagaiman kondisi dari pilot tersebut. Ia yakin bahwa ia akan aman dan selamat sampai tujuan.

4. BERTINDAK

Bapak/ibu saudara yang dikasihi oleh Tuhan kita Yesus Kristus, sama seperti yang sering terjadi dalam kehidupan kita, lebih sering kita tidak percaya. Yang sering kita lakukan adalah kita butuh bukti nyata, agar bisa menjadi percaya. Namun sebuah pelajaran penting yang kita pelajari dari kebenaran firman Tuhan pada hari ini, ialah percaya walau belum melihat dan hal inilah yang Yesus inginkan. Kita harus percaya dengan iman kita walaupun kita belum melihat dengan kasat mata. Bapak/ibu yang dikasihi oleh Tuhan kita Yesus Kristus, jangankah kita menjadi seperti Thomas, yang harus melihat dengan mata secara langsung baru percaya. Jangan kita menjadi Thomas –Thomas masa kini, yang tapi biarlah kita mau percaya dengan segenap hati kita sekalipun belum melihat. Kiranya kebenaran Firman Tuhan pada hari ini bisa menjadi berkat bagi kita semua, Amin.

 Kesaksian:

Saya adalah seorang mahasiswa yang kuliah di STT IBC. Saya bersyukur dan bangga kepada Tuhan yang begitu mengasihi saya. Berbicara mengenai percaya, adalah kata yang sudah tidak asing lagi. Saya ingin membagikan kesaksian mengenai kata “percaya”. Ketika tamat SMA saya memiliki kerinduan untuk melayani Tuhan dan singkat cerita saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk berangkat ke Batam. Menjadi suatu hal yang baru bagi saya adalah, merantau ke tanah orang sendirian. Rasa takut itu ada karena merasa sendiri. Namun, disaat seperti itu Tuhan mengirimkan teman. Ada suatu peristiswa yang masih tersimpan di benak saya mengenai kebaikan Tuhan adalah Dia adalah Allah yang mencukupkan segala kebutuhanku. Akhirnya berangkat ke batam dengan rute perjalanan dari Surabaya-Kalimantan-Batam. Waktu itu masih pertama kalinya keluar dari kampung dan percaya bahwa Tuhan akan menolong. Hal itu benar-benar terbukti pertolongan Tuhan, saya sudah berada di Batam. Saat ini sudah tingkat akhir dalam menempuh perkuliahan di STT IBC. Semuanya bisa lalui karena Percaya Kepada Tuhan dan semua Tuhan cukupkan apa yang kuperlukan. Kiranya melalui kesaksian ini membuat kita semakin lebih percaya kepada Tuhan dimana Tuhan akan selalu mencukupkan apa yang kita perlukan.

5. BERDISKUSI

B. Pertanyaan

a. Sudah kamu percaya walau belum melihat?

b. Mengapa kita harus percaya?

6. BERDOA SYAFAAT

Pokok doa:

a. Gembala dan Staff Gereja

b. Sidang Jemaat Allah

c. Bangsa Indonesia dan Kota Batam

d. Situasi Pandemi Covid-19


Sudah Selesai

YOHANES 19:1-30

Topik : Sudah Selesai

Tujuan : Mengajarkan jemaat agar tetap mengingat pengorbanan Yesus Kristus untuk semua manusia. Jemaat diharapkan bisa mengingat kasih Allah yang tidak terbatas dan dapat mempraktekan kasih Allah dalam kehidupannya sehari-hari

1. BERDOA (3-5 MENIT)

Mari kita berdoa

Bapa kami yang bertahta di atas kerajaan surga, kami mengucap syukur atas segala penyertaanmu yang begitu besar di dalam kehidupan kami. Bapa pada saat ini kami kembali bersekutu di hadapanmu untuk memuliakan namamu dengan menaikkan pujian pemyembahan kami di hadapanmu. Inilah kami Tuhan, penuhi kami dengan urapan roh-Mu, kiranya ibadah kami ini dapat menjadi persembahan yang berbau harum di hadapanmu haleluya, Amin.

2. BERMAZMUR (10-15 MENIT)

Pujian 1: Hanya Kau Tuhan di hidupku

Kau berikan hidup yang baru

Darah-Mu menyucikan pulihkan hatiku

Kunyatakan Kaulah segalanya

Engkaulah sumber pengharapan

Kuasa-Mu sanggup menyembuhkan

Jiwaku pun berserah hanya kepada-Mu

Yesus kaulah segalanya

Karena salib-Mu kuhidup

Karena salib-Mu kumenang

Engkau yang berkuasa sanggup

'Tuk melakukan mukjizat-Mu

Karena salib-Mu kuhidup

Karena salib-Mu kumenang

Engkau yang berkuasa sanggup

'Tuk melakukan mukjizat-Mu

Di hidupku

Pencipta : Andre Hermanto

Penyanyi : True Worship

3. Baca Firman (10-15 menit)

A. Teks Firman Tuhan (Yoh.19: 1-30)

Bacalah Firman Tuhan dari Yoh. 19:1-30

B. Penjelasan Firman Tuhan:

Peristiwa dalam teks Yoh. 19:1-30 merupakan kelanjutan dari pasal 18:28-40 yang menceritakan mengenai Yesus dihadapan Pilatus. Pada bagian ini ayat ini menjelaskan bahwa Pilatus yang tidak sedikit pun mendapati kesalahan pada diri Yesus. Salah satu ucapan/perkataan Pilatus yang muncul lagi pada pasal 19 adalah “aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya.” Bagian perkataan ini muncul sebanyak 2 kali pada pasal ini dan hal ini membuktikan ketidakbersalahan Yesus dan Pilatus “seakan-akan ingin menyelamatkan Yesus” dari semua tuduhan orang-orang yang ada pada saat itu. Akan tetapi teriakan orang-orang Yahudi kepada Pilatus yang mengancamnya dan mengatakan bahwa “jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat kaisar. Setiap orang menganggap dirinya raja, ia melawan kaisar.” Perkataan inilah yang membuat Pilatus akhirnya menyerahkan Yesus kepada orang banyak itu, untuk disalibkan.

Pada pasal 19 terdapat 4 sub tema, namun yang akan di bahas pada saat ini ialah mengenai Yesus disalibkan dan Yesus mati. Pada saat penyaliban Yesus, Ia dibawa oleh orang banyak tersebut ke salah satu tempat Tengkorak yang dalam bahasa Ibrani disebut Golgota. Disitulah Yesus disalibkan bersama-sama dengan dua orang lainnya yakni dibagian sebelah-menyebelah. Sesudah Yesus disalibkan, mereka mengambil pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap prajurit dan jubah-Nya juga diambil mereka. Namun salah seorang berkata kepada mereka untuk tidak membaginya beberapa potong tetapi, lebih baik membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya. Dengan demikian genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: “Mereka membagi-bagi pakaian-Ku diantara mereka dan mereka mebuang undi di atas jubah-Ku.” Sesudah itu, Yesus tahu bahwa segala sesuatu telah selesai berkatalah Ia – supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci -: “Aku haus!” Disitu ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. Sesudah Yesus selesai meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah Selesai.” Lalu Ia menundukkan kepada-Nya dan menyerahkan Nyawa-Nya.

 Renungan : Kasih dan Pengorbanan Yesus

Dari kisah di atas dapat dilihat mengenai penderitaan yang di alami oleh Yesus. Dimana Ia yang tidak memiliki kesalahan dan harus dituduh bersalah oleh orang-orang Yahudi pada saat itu. Oleh sebab itu, dalam peristiwa penyerahan dan sampai kepada penyaliban Yesus Kristus dapat kita renungkan kembali dalam kehidupan sehari-hari bahwa Yesus yang tidak bersalah menyerahkan nyawa-Nya di atas kayu salib. Maka dalam hal ini apakah yang dapat kita renungkan bersama-sama? Bapak ibu, saudara/i yang dikasihi Yesus Kristus, kematian Yesus di kayu salib mengingatkan kembali bahwa kematianNya untuk menghapus dosa-dosa manusia dan hal itu menjadi bukti kasih-Nya kepada manusia.

 Kematian Yesus di kayu salib seharusnya menyadarkan kita semuanya bahwa sebenarnya bukan Dia yang seharusnya di hukum mati melainkan kita sebagai orang yang berdosa. Tetapi Yesus rela menyerahkan hidup-Nya menggantikan kita sebagai bukti kasihNya. Pegorbanan Yesus yang benar-benar nyata seharusnya membuat kita sadar bahwa saya dan bapak ibu, suadara/i hidup karena kasih karunia yang telah Yesus nyatakan di atas kayu salib. Oleh sebab itu, mari kita sama-sama belajar untuk tetap hidup di dalam Yesus Kristus dan tidak mempermain-mainkan kasih karunia tersebut. Sehingga kita menjaga kualitas kerohanian kita setiap saat.

 Ilustrasi

 Pada suatu ketika ada seorang ayah yang memiliki seoarang anak laki-laki yang sangat dia sayangi. Ia bekerja sebagai penjaga jembatan untuk kereta api dan orang-orang yang naik kereta itu penuh kemarahan, egois, terluka, dan kecanduan. Tibalah kepada sebuah situasi stragis membawanya kepada sebuah pilihan yang mengerikan. Membiarkan semua penumpang di kereta itu mati atau menarik tuas untuk menurunkan jembatannya dan sebagai gantinya anak itu mati terjepit. Dengan pilihan hati yang berat, ia lebih memilih menyelamatkan orang banyak yang ada di dalam kereta tersebut. Ia rela membiarkan anaknya mati terjepit demi menyelamatkan nyawa orang banyak yang ada di dalam kereta. Demikian halnya dengan Allah yang mengorbankan anak-Nya Yesus Kristus untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa.

4. BERTINDAK

Melalui Firman Tuhan dan juga ilustrasi di atas, kita belajar bagaimana kasih seorang ayah yang rela mengorbankan anak-Nya. Oleh sebab itu, biarlah kita semua boleh belajar untuk menghargai dan mengingat pengorbanan seorang anak Manusia yang merelakan nyawa-Nya menggantikan semua dosa – dosa semua umat manusia. Biarlah dalam setiap langkah hidupku kita, marilah belajar untuk merenungkan pengorbanan Yesus dalam hidup kita. Dia adalah Allah yang penuh dengan belas kasihan dan sangat mengasihi kita semua. Ia tidak peduli dengan seberapa besar penderitaan yang akan di alami oleh Yesus namun, Dia lebih peduli dengan dosa semua umat manusia. Marilah kita mengingat kasih Allah yang begitu besar untuk manusia maka, biarlah kita juga bisa mempraktekkan kasih itu dalam hidup kita.

 Kesaksian

 Saya adalah mahasiswa STT IBC. Berbicara tentang pengorbanan, saya akan sedikit bersaksi mengenai pengorbanan yang pernah saya alami dalam hidup saya. Salah satu pengorbanan yang pernah terjadi dalam hidup saya adalah mengorbankan waktu saya untuk bekerja. Ketika berumur 5 tahun, saya dititipkan oleh nenek untuk tinggal di rumah orang agar dapat bersekolah. Sejak tinggal dengan orang tersebut selama 5 tahun, tidak pernah menikmati hidup selayaknya seperti anak 5 tahun yang bisa bermain bersama teman-temannya. Saya berbeda dari yang lain, karena yang harus dilakukan adalah kerja dan kerja. Saya dipaksa untuk harus melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat (mengangkat air dengan ember yang adalah bekas cat dinding). Tidak hanya itu, saya harus pergi ke hutan untuk mencari rumput dan juga harus mengambil sisa-sisa makanan ke warung). Semua ini saya lakukan sejak berumur 5 tahun yang harus mengorbankan masa-masa kecil untuk kerja dan tidak pernah punya waktu untuk bermain bersama teman-teman. Namun,harus tetap bersyukur dengan semua itu, karena hal itu membentukku menjadi pribadi yang lebih dewasa dan mandiri. Yesus sudah berkorban bagi kita dan kita harus juga berkorban untuk membuat kita semakin lebih mengenalNya. Kiranya kesaksian ini dapat memberkati bpk ibu, saudara/i sekalian. Tuhan Yesus memberkati

1. BERDISKUSI

A. Pertanyaan/Quis

a. Hal-hal apa saja yang sudah anda dapatkan melalui peristiwa pengorbanan Yesus kristus di atas kayu salib?

b. Bagaimana respon anda tentang pengerbanan Yesus?

2. BERDOA SYAFAAT

Pokok doa:

a. Gembala dan Staff Gereja

b. Sidang Jemaat Allah

c. Bangsa Indonesia dan Kota Batam

d. Situasi Pandemi Covid-19


YESUS JALAN, KEBENARAN DAN HIDUP

 YOHANES 14:1-14.

Topik: Yesus Jalan, Kebenaran dan Hidup

Tujuan: Mengajarkan kepada Jemaat bahwa Yesuslah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Dengan demikian jemaat semakin teguh dalam imannya kepada Yesus.

1. BERDOA

Bapa kami yang baik, kami bersyukur buat kesehatan dan anugerah Tuhan yang masing kami rasakan sampai saat ini, dimana kami pada hari ini boleh berkumpul bersama-sama untuk memuji dan memuliakan nama-Mu, dan kiranya melalui pujian kami ini dapat menyenangkan hati Tuhan. Tuhan kami yang baik berkati setiap hamba-Mu yang terlibat dalam acara ibadah pada hari ini, seluruh acara ibadah ini dari awal hingga akhirnya kami serahkan semuanya ke dalam tangan-Mu. Di dalam nama Yesus halleluyah. Amin.

2. BERMAZMUR

Pengarang: Ronny Tomasoa

Aku Jalan Kebenaran

     Aku jalan kebenaran dan jalan kehidupan

     Itu yang Yesus katakan dan ku percaya, Amin

     Di dalam namaNya ada keselamatan kekal

Reff :

    Glory haleluyah, Glory haleluyah

    Glory haleluyah, Glory haleyuyah

    Di dalam nama-Nya ada keselamatan kekal

3. BACA FIRMAN:

Teks Firman Tuhan :Yohanes 14:1-14

Penjelasan Firman Tuhan : Aku Jalan dan Kebenaran dan Hidup

Teks dari Yohanes 14:1-14 menceritakan bahwa Yesus akan kembali ke rumah Bapa di surga, di mana Ia pergi ke rumah Bapa untuk menyediakan tempat bagi murid-murid-Nya, supaya tempat di mana Yesus berada, mereka pun berada, dan kemana Yesus pergi, mereka tahu jalan kesitu (Yoh. 14:3-4).

Dalam ketidaktahuan mereka sebagai murid, diantaranya ada yang bertanya yaitu Tomas: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?”. Dengan tegas Yesus menjawab: Akulah jalan dan kebenaaran dan hidup. Tanpa melalui iman kepada Yesus tidak ada yang bisa datang kepada Bapa. Selanjutnya, Filipus dalam penasarannya bertanya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup kepada kami”. Tuhan Yesus menyatakan bahwa Dia dan Bapa adalah satu. Tuhan Yesus meminta mereka percaya kepada-Nya jikalau mereka percaya kepada Allah. Yesus menyatakan hal itu kepada murid-murid-Nya supaya mereka yang belum melihat percaya kepada-Nya, dan sesungguhnya barang siapa yang percaya kepada-Nya, ia akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Yesus lakukan, bahkan pekerjaan yang lebih besar dari pada itu supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak (ay. 12-13).

Perjalanan iman para murid harus bermuara pada jalan yang menuju kehidupan yang kekal, yaitu tempat Bapa di Sorga. Kunci untuk mencapainya yaitu Yesus Kristus yang menjadi penuntun jalan mereka selama hidup di dunia, dan firman-Nya yang menjadi terang dan kebenaran yang menerangi langkah kaki mereka dalam bertindak sebagai murid Kristus, serta hidup yang benar-benar berpusat kepada Kristus.

 Renungan:

Dari renungan ini kita percaya dan menyadari bahwa kepergian Yesus ke rumah Bapa di Sorga untuk menyediakan tempat bagi kita orang percaya. Dari sini kita belajar bahwa:

Pertama, kebenaran utama bahwa Yesus adalah jalan satu-satunya menuju rumah Bapa. Tanpa Yesus tidak ada satu orangpun yang dapat datang kepada Bapa di Sorga. Teks ini menyadarkan kita bahwa rumah yang sesungguhnya bukanlah di dunia ini melainkan rumah yang abadi bersama Bapa di Sorga. Oleh karena itu, orang Kristen harus percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan satu-satunya selama dia hidup. Kita yang telah percaya kepada Yesus sebagai Tuhan maka kita akan memperoleh bagian dalam kerajaan Allah dengan hidup yang kekal (Yoh.3:16).

Dalam perjalanan iman kepada Yesus dituntut kualitas hidup yang berkenan di hadapanNya. Hidup yang didasarkan dengan kebenaran firman Allah. Dimana orang percaya bukanlah tunduk kepada nilai-nilai dunia melainkan taat terhadap perkataan Allah melalui firmanNya yang telah kita dengar dan baca dalam setiap persekutuan yang kita lakukan. Amsal 11:19 “Siapa berpegang pada kebenaran yang sejati, menuju hidup, tetapi siapa mengejar kejahatan, menuju kematian. Orang Kristen harus menjauhi kejahatan untuk tetap menjadi pewaris kerajaan Allah (1 Korintus 6:9-10 “tidak tahukah engkau, bahwa orang-orang yang tidak benar tidak akan mewarisi Kerajaan Tuhan? Jangan tertipu! Baik orang-orang cabul, penyembah berhala, orang yang berzina, banci, atau yang melakukan perbuatan memalukan terhadap sesama jenisnya, pencuri, tamak, pemabuk, pengumpat, atau pemeras, tidak akan mewarisi kerajaan Tuhan).

Orang Kristen yang beriman kepada Yesus bukan hanya menyatakan iman melalui perkataan semata, melainkan mengahasilkan buah hidup yang menjadi kesukaan Tuhan yaitu kekudusan serta menjadikan Dia sebagai tujuan utama dalam hidup kita, sehingga bukanlah harta, pekerjaaan, atau uang yang menjadi fokus orang percaya karena akan membuat hubungan kita jauh dari Tuhan. Bukan kurang banyak orang percaya meninggalkan Tuhan atau hubungannya dengan Dia yang semakin jauh karena sibuk mengejar harta di dunia. Hal ini tampak ketika orang semakin malas beribadah, malas berdoa, sibuk pesta pora, sibuk dengan pekerjaan dan ibadah yang terbengkalai bukanlah suatu masalah karena tidak menganggap itu sebagai keharusan.

Jadilah orang Kristen yang sejati yaitu mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan mencintai perintah-Nya serta mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan. Oleh karena firman Tuhan berkata: Bukan setiap orang yang memanggil-Ku, Tuhan, Tuhan, yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga; melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Surga (Matius 7:21). Serta setiap orang yang tidak berbuat kebenaran tidak berasal dai Allah ( 1 Yohanes 3:10). Allah ingin tatkala kita mengaku Dia sebagai Tuhan yang empunya kehidupan, dimana kita menghidupi kebenaran-Nya dalam kehidupan ini dengan setia.

 Ilustrasi:

Suatu malam ada seorang bapak yang ingin pergi ke apotik membeli obat untuk anaknya yang sakit. Lokasi apotik yang ingin di datangi bapak ini cukup jauh, sehingga dia harus mencari jalan pintas supaya cepat sampai ke apotik karena anaknya sedang terbaring lemah. Dengan demikian, bapak ini pergi melewati jalan cepat yaitu jalan tikus atau jalan sepi, becek dan jalan yang gelap walaupun bapak ini bisa melewati jalan yang lebih bagus dan terang untuk menuju apotik tersebut. Namun, situasi dan kondisi yang memaksa beliau harus melewati jalan tersebut pintas supaya ia cepat sampai ketujuan. Dari cerita ini kita belajar bahwa ada banyak jalan yang harus kita tentukan, apakah kita memilih jalan yang benar atau salah? Semua tegantung bagaimana respon kita atas pilihan tersebut. Tuhan memberi kita kehendak bebas untuk memilih ke jalan yang salah atau jalan yang benar tetapi Roh Kudus juga memimpin dan menuntun kita menuju jalan yang benar. Namun, ada satu jalan yang tidak bisa dipilih oleh manusia, yaitu jalan kebenaran dan hidup. Satu-satunya cara untuk menunju jalan itu hanya dengan melalui Yesus Kristus tidak ada yang lain, untuk menuju jalan kebenaran itu kita harus mempercayai Yesus dengan sepenuh hati dan taat kepada firman Tuhan.

4. BERTINDAK

 Kesaksian :

Shalom Bapak/ibu, saudara/i yang saya kasihi di dalam Yesus Kristus, pada kesempatan kali ini saya mahasiswa STT IBC akan membagikan kesaksian tentang kebaikan Tuhan dalam kehidupan saya. Saya bersyukur diperbolehkan untuk hidup dan percaya dan menerima anugerah Tuhan. Saya terlahir dari keluarga Kristen, namun tidak sepenuhnya keluarga saya percaya kepada Tuhan, orang tua saya pada awalnya tidak pernah datang ke gereja untuk beribadah. Namun, karena kebaikan Tuhan yang saya alami saya kenal lebih dekat dengan Tuhan dan bisa bersaksi tentang kebaikan Tuhan kepada kedua orangtua saya. Sejak saat itu orang tua saya mau beribadah, bahkan semenjak saya menjadi pelayan Tuhan keluarga saya menjadi dekat dengan Tuhan. Ini adalah sebuah kebaikan Tuhan yang besar dalam hidup saya dan keluarga saya, mulai saat itu kami banyak sekali mengalami mukjizat Tuhan yang terjadi dalam keluarga kami. Terimakasih. Tuhan Yesus Memberkati.

5. BERDISKUSI

A. Pertanyaan/Quis 1:

• Apakah bapak/ibu sudah mempercayai Yesus dengan sepenuh hati?

• Apakah Yesus telah tinggal di dalam hati bapak/ibu?

• Apakah bapak/ibu sudah menyadari bahwa jalan kebenaran dan hidup hanya ada di dalam Dia?

6. BERDOA SYAFAAT

Pokok doa :

1. Berdoa untuk Gembala sidang dan staff gereja

2. Berdoa untuk Mahasiswa/I IBC yang melayani

3. Berdoa untuk Jemaat Betesdha dan jemaat Anugerah (kesehatan, pekerjaan, ekonomi, serta pendidikan anak-anak)

4. Berdoa untuk keamanaan lingkungan Gereja

5. Berdoa untuk Bangsa Indonesia (Pemimpin, situasi pandemik covid-19 supaya Tuhan pulihkan, para tim medis yang menangani orang yang terpapar covid-19, perekonomian Bangsa Indonesia, dan kesejahteraan Bangsa Indonesia)

6. Berdoa untuk Kota Batam


KASIH SEBAGAI IDENTITAS MURID

 YOHANES 13:31-35

Topik: Kasih Sebagai Identitas Murid Kristus

Tujuan: Untuk meengajarkan kepada jemaat bahwa identitas orang percaya adalah kasih. Dengan demikian mendorong jemaat untuk menyatakan kasih kepada keluarga dan orang-orang di sekitar.

1. BERDOA :

Bapa yang baik terimakasih untuk kebaikan Tuhan dalam kehidupan kami umat-Mu. Bapa dalam surga pada saat ini kami akan memulai rangkaian ibadah kami, kiranya Tuhan yang hadir di tengah-tengah kami dan melawat setiap kami pribadi lepas pribadi. Bapa yang baik berkati setiap orang-orang yang terlibat melayani dalam ibadah ini, biarlah Roh-Mu yang bekerja bagi setiap kami. Kami serahkan ibadah kami dari awal sampai akhir kedalam tangan-Mu, dalam nama Tuhan Yesus Haleluya. Amin.

2. BERMAZMUR

Pengarang: Victor Retraubun

Aku Mengasihi Engkau Yesus

Aku mengasihi Engkau Yesus

Dengan segenap hatiku

Aku mengasihi Engkau Yesus

Dengan segenap jiwaku

Reff:

Ku renungkan FirmanMu siang dan malam

Ku pegang p'rintahMu, dan kulakukan

Engkau tahu ya Tuhan, tujuan hidupku

Hanyalah untuk menyenangkan hatiMu

Aku mengasihi Engkau Yesus

Dengan segenap hatiku

Aku mengasihi Engkau Yesus

Dengan segenap jiwaku

Ku renungkan FirmanMu siang dan malam

Ku pegang p'rintahMu, dan ku lakukan

Engkau tahu ya Tuhan, tujuan hidupku

Hanyalah untuk menyenangkan hatiMu

3. BACA FIRMAN:

A. Teks Firman Tuhan : Yohanes 13:31-35

B. Penjelasan Firman Tuhan :

Teks ini berkesinambungan dengan perikop sebelumnya yaitu perihal penyerahan Yesus melalui pengkhianatan salah seorang murid. Dalam pertemuan mereka bersama Yesus tepatnya sebelum hari raya Paskah Ia memberitahukan kepada murid-murid-Nya bahwa salah satu di antara murid-murid-Nya akan menyerahkan Dia kepada musuh-Nya untuk disalibkan. Pengkhianatan itu dilakukan oleh Yudas Iskariot, namun tidak disadari para murid yang lain.

Hal lain yang Yesus sampaikan diantara mereka yaitu perintah untuk saling mengasihi satu dengan yang lain. Mengasihi merupakan sebuah perintah bukan sebatas himbauan. Mengasihi adalah tindakan nyata (wujud nyata) bahwa manusia telah menerima kasih Allah. Mengasihi merupakan proklamasi kepada dunia bahwa kita adalah pengikut Kristus.

 Renungan:

Dari kisah ini Yesus juga mengajarkan kepada kita orang-orang percaya untuk saling mengasihi karena Ia terlebihi dahulu telah mengasihi kita anak-anak-Nya. Bukti dari kasih-Nya adalah Ia mengorbankan nyawa-Nya bagi manusia untuk menebus dan menyelamatkan manusia dari murka Allah karena dosa (baca Yohanes 3:16-18). Apa yang dapat kita pelajari dari perintah Yesus?

 Pertama, sebagai orang percaya yang telah merasakan dan menerima kasih-Nya, kita juga harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan dengan segenap akal budi (Mat. 22:37). Artinya seluruh aspek kehidupan kita semua tertuju kepada Dia. Mengasihi Tuhan berarti kita mempunyai hubungan yang intim dengan Dia. Mengasihi Tuhan berarti kita membangun hidup yang jujur dan kudus di hadapan-Nya. Mengasihi Tuhan berarti kita menjauhi kejahatan yaitu segala tindakan yang membuahkan dosa. Oleh karena Allah tidak dapat bersatu dengan dosa dan Ia membenci dosa.

 Kedua, Kasih Kristus harus terpancar keluar dalam hidup orang percaya, yakni menunjukkan kasih itu terhadap sesama manusia (tercatat juga di dalam Mat. 22:39). Sesama manusia adalah semua orang (baik orang percaya kepada Yesus maupun tidak) yang tidak dibatasi oleh suku atau status sosial (miskin atau kaya). Sikap mengasihi ini merupakan kesaksian yang hidup dan sangat efektif untuk memberitakan Injil Keselamatan kepada merka yang belum menerima Kristus. Identitas kita sebagai orang Kristen, wajib hukumnya untuk menunjukkan kasih-Nya kepada orang lain melalui perkataan, tindakan, dan seluruh aspek kehidupan kita.

 Ilustrasi:

Suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah pelita. Orang buta itu dengan terbahak berkata, Buat apa aku bawa pelita? Tak ada gunanya bagiku! Aku bisa pulang kok. Dengan lembut sahabatnya menjawab, ini agar orang lain bisa melihat kamu, agar mereka tidak menabrakmu. Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita. Tak berapa lama, dalam perjalanan pulang, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, si buta memaki, heiii, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong! Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu. Lebih lanjut, seorang pejalan lain menabrak si buta. Si buta bertambah marah, Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat! Pejalan itu menukas, kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam! Si buta tertegun.... menyadari situasinya, sang penabrak meminta maaf, Oh, maaf, akulah yang 'buta', tidak melihat bahwa engkau adalah orang buta.Wajah si buta memerah karena malu, dengan tersipu ia menjawab, Tak apa, maafkan aku juga atas kata-kataku yang kasar. Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing. Pelita melambangkan Kasih Tuhan, orang buta melambangkan orang yang belum percaya Tuhan dan penabrak melambangkan orang percaya atau orang Kristen.

Dari cerita ini, kita belajar bahwa sebagai orang percaya yang telah melihat dan menerima kasih-Nya, kita harus menunjukkan kasih itu kepada orang buta yang belum melihat dan merasakan kasih Tuhan, mereka harus dituntun dengan kasih-Nya, melalui kita orang percaya. Dari aspek kehidupan kita, kita menerangi kasih-Nya kepada orang buta itu supay orang buta itu dapat berjalan di dalam kasih-Nya. Dan orang buta itu menyadari bahwa kasih Tuhan yang selalu menyertai mereka.

4. BERTINDAK

- Anak-anak Allah harus mengasihi semua orang baik melalui tindakan maupun perkataan yang memberkati orang lain. (janganlah mengeluarkan perkataan yang hambar sehingga menjadi batu sandungan bagi sesama).

- Agar kita tetap mengasihi sesama maka kita juga harus menjaga kasih kita kepada Allah melalui persekutuan kita secara pribadi dengan Dia.

5. BERDISKUSI

• Bagaimana respon bapak/ibu ketika menerima kasih Tuhan dalam hidup saudara?

• Apakah bapak/ibu, saudara/i sudah menunjukkan kasih-Nya kepada orang lain?

• Bagaimana cara bapak/ibu menunjukkan kasih Tuhan kepada orang lain?

6. BERDOA SYAFAAT

Pokok doa : Bangsa, Kota, pemulihan dari covid 19, Gembala & Staf Gereja, Jemaat (Kesehatan, Keuangan dan Pertumbuhan iman) dan Pergumulan Khusus