makananannannam
Blog Ini Berisikan mengenai renungan2 dan pemikiran-pemikiran tentang iman dalam keseharian.
KONSEP KESELAMATAN DALAM YESUS KRISTUS MENURUT DOKTRIN SOTERIOLOGI
Pendahuluan
Keselamatan merupakan inti dari ajaran Kristen, menjadi jembatan antara Allah dan umat manusia yang terpisah oleh dosa. Dalam konteks ini, soteriologi, atau studi tentang keselamatan, memberikan pemahaman yang mendalam mengenai bagaimana Allah bekerja untuk menyelamatkan manusia melalui Yesus Kristus. Konsep keselamatan tidak hanya berkaitan dengan pengertian teologis, tetapi juga melibatkan pengalaman hidup yang membawa transformasi bagi setiap individu.
Dalam berbagai penafsiran, keselamatan dapat dipahami dari berbagai perspektif. Soteriologi menjelaskan keselamatan sebagai sebuah proses dan anugerah yang melibatkan iman, pertobatan, dan pengampunan. Selain itu, pemahaman tentang keselamatan juga dapat ditemukan dalam konteks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang masing-masing memberikan wawasan unik mengenai hubungan Allah dengan umat-Nya.
Latar belakang dan sejarah keselamatan menjelaskan bagaimana dosa asal dan akibatnya menciptakan kebutuhan mendesak bagi penebusan. Yesus Kristus, sebagai sumber keselamatan, berperan penting dalam karya penebusan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Hasil keselamatan ini tidak hanya menawarkan pengampunan, tetapi juga kehidupan baru bagi orang percaya. Dengan memahami proses keselamatan, kita dapat lebih menghargai anugerah yang diberikan dan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan Penulisan
Pada pembahasan makalah ini bertujuan untuk membahas pemaparan tentang "Keselamatan dalam Yesus Kristus Menurut Doktin Soteriologi" adalah untuk memberikan pemahaman yang mendalam mengenai berbagai aspek keselamatan menurut perspektif teologi Kristen.
Pengertian Keselamatan dari berbagai Penafsiran
Istilah ‘keselamatan’ dalam KBBI mempunyai kata dasar ‘selamat, dan mempunyai
arti sebagai terbebas atau terhindar dari bahaya, malapetaka, bencana, bencana, tidak kurang suatu apa, tidak mendapat gangguan pun kerusakan. Arti lain kata ‘selamat’ mencakup kesehatan, pencapaian tujuan, serta harapan akan kesejahtraan dan keberuntungan. Dari kata dasar ini, lahir istilah “keselamatan,” yang merujuk pada kondisi aman, sejahtra, bahagia, dan hal- hal serupa.1
Menurut Jonar T.H Situmorang, membahas tentang doktin keselamatan bagaimana soteriologi didefinisikan sebagai pengajaran tentang keselamatan yang dilakukan oleh Allah melalui Yesus Kristus.2 Sedangkan menurut Louis B dalam bukunya “Teologi Sistematika” dalam mendefinisikan isi dari soteriologi, dikatakan bahwa keselamatan adalah karya-karya penebusan Allah.3 Dilanjutkan menurut Markus Suyadi, Keselamatan merupakan tindakan Allah yang melepaskan atau membebaskan umat-Nya dari berbagai hal yang dapat mengancam nyawanya, seperti penyakit, musuh, dan bencana, serta memberikan perawatan setelah mereka terhindar dari bahaya tersebut.4
Sementara itu, Charles C. Ryrie dalam bukunya “Teologi Dasar 2” menafsirkan keselamatan dari dua sudut pandang: pertama, dari sudut pandang Allah, keselamatan meliputi segenap karya Allah dalam membawa manusia keluar dari hukuman menuju pembenaran, dari kematian ke kehidupan kekal, dari musuh menjadi anak; kedua, dari sudut pandang manusia, keselamatan mencakup segala berkat yang berada di dalam Kristus, yang bisa diperoleh dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan yang akan datang.5
1Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Keselamatan” [artikel online] https://kbbi.web.id/selamat, [diakses] 08 Oktober 2024
2 Jonar T.H Situmorang, Soteriologi Doktrin Keselamatan: Pengajaran Mengenai Karya Allah Dalam Keselamatan (Yogyakarta: ANDI, 2015), 3.
3 Louis Berkhof, Teologi Sistematika Volume 4: Doktrin Keselamatan (Momentum Christian Literature, 2008), 6.
4 Marlon Christian Tirayoh et al., “Pandangan Teologi Terhadap ‘Doktrin Keselamatan’ Menurut Pandangan Kristen,” Indonesian Culture and Religion Vol:1. No, no. Indonesian Culture and Religion Issues (2024): 3.
5 Charles C. Ryrie, Teologi Dasar 2 (Yogyakarta: Andi, 2017), 32–33.
Menurut pandangan tentang keselamatan tentang keselamatan (soteriologi) di atas, keselamatan merupakan tindakan Tuhan yang membebaskan umat-Nya dari segala hal yang dapat membahayakan jiwa mereka. Pembebasan dan perlindungan ini hanya berasal dari Allah. Keselamatan ini meliputi semua berkat yang ada di dalam Kristus, yang dapat dinikmati baik di kehidupan sekarang maupun di kehidupan yang akan datang.6
Pengertian Keselamatan Sebagai Soteriologi
Soteriologi merupakan teologi yang mempelajari doktrin keselamatan, terutama
terkait dengan bagaimana manusia diselamatkan. Kata Soteriologi beraral dari bahasa Yunani Soterios (σωτήριος) yang berasal dari dua kata yaitu: sótér (ζωτήρ) yang berarti penyelamat atau melepaskan dari bahaya kehancuran dan kata kedua ialah kata logia (λόγια) yang memiliki arti perkataan atau ucapan, sehingga terciptalah kata Soterios (ζωηήριον) yang berarti keselamatan.7 Dengan demikian dari perspektif etimologi, istilah Soteriologi merujuk pada studi atau ajaran mengenai keselamatan manusia.
Keselamatan dalam Perjanjian Lama
Kata Keselamatan dalam Perjanjian Lama memakai beberapa kata, yaitu: pertama,
kata yasha. Yasha memiliki arti terbebas dari segala larangan, terlepas dari sifat-sifat buruk yang membawa orang jatuh ke dalam dosa. Di dalam Perjanjian Lama, kata yasha dipakai sebanyak 353 kali, seperti terdapat di Kel. 14:30; Ul. 33:29: I Sam. 17:47; 2 Sam. 22:3,36,47; Maz. 106: 10, dan lain sebagainya.8
Kata selanjutnya yang memiliki kesamaan dengan soteria dalam Perjanjian Lama dipakai dalam istila ‘syalom’ yang berarti damai sejahtra, tidak ada musuh, berkat dan sehat.
6 Christian Tirayoh et al., “Pandangan Teologi Terhadap ‘Doktrin Keselamatan’ Menurut Pandangan Kristen,” 3.
7 Desti Samarenna, “Konsep Soteriologi Menurut Efesus 2:1-10,” FIDEI: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika" Vol 2, No. 2 Desember (2019): 248.
8 Philipus Pada Sulistya, “Konsep Keselamatan Dalam Perjanjian Lama,” Jurnal Pistis 11 (2013): 47.
Kata ‘syalom dipakai lebih dari 250 kali dalam Perjanjian Lama. Seperti terdapat di 1Raja 4:25; 2 Sam. 15:27, dan seterusnya.9
Keselamatan dalam Perjanjian Baru
Kata yang digunakan untuk keselamatan dalam Perjanjian Lama diatas dipakai untuk
anugrah keselamatan dari Allah dan Allah sendiri sebagai pelaku keselamatan. Sedangkan dalam Perjanjian Baru, istilah soteria secara khusus berakar dari kata Yunani, saos,yang memiliki kata dasar sozo, yang berarti ‘dilepaskan’, ;dilindungi dari bahaya’ (KPR 7:25; 27:31; Ibr. 11:7). Pengertian yang juga berhubungan dengan kata ‘sozo’ secara langsung dikutip dari teks Alkitab (Mark. 5:34; Yak. 5:15) yang artinya ‘sejahtra penuh’ atau sehat secara badani. Secara harfiah, dalam konteks agama, kata ini dapat diartikan sebagai “damai, sehat, sukacita, keselamatan, atau kesembuhan baik secara fisik maupun rohani (Luk. 4:18-19.10 Kata soteria yang digunakan dalam Perjanjian Baru, Contoh sebagai berikut: dalam Luk. 1:64,77; 19:9; Yoh. 4:22; Kis. 4:12, 13:26,47, 16:17; Rom. 1:16, 10:10, 11:11, 13:11; 2Kor. 1:6, 6:2; Fil. 1:19; Ibr. 1:14, 2:3,10, 5:9, 6:9, 9:29; 1Pet. 1:5,9-10; 2Pet. 3:15; Yud:3; Why. 7:10, 12:10, 19:1 dari keseluruhan ayat diatas merujuk pada keselamatan. Kata ini bermakna pernyataan bahwa Yesus Kristus merupakan sumber keselamatan, yang artinya siapa tinggal dalam Kristus akan di selamatkan.11
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa istilah soteriologi dalam Alkitab merujuk pada konsep keselamatan umat manusia yang hanya dapat diperoleh melalui Yesus Kristus. Menurut Richardson dalam karyanya, keselamatan yang diterima oleh manusia berasal dari Allah. Keselamatan itu dinyatakan bagi setiap orang percaya dan terlihat pada akhir zaman.12
9 Ibid.
10 Dkk Panca Parulian S, Stefanus R. Budiman, Pemahaman Dasar Tentang Teologi Sitematika (Bandung: STT INTI PRESS, n.d.), 97.
11 Panca Parulian S, Stefanus R. Budiman, 97. 12 Ibid.
Latar Belakang dan Sejarah Keselamatan
Pertanyaan penting yang perlu diajukan untuk memahami latar belakang dan sejarah
dibalik adanya keselamatan bagi umat manusia adalah: apa yang menjadikan keselamatan menjadi kebutuhan mendesak bagi semua orang? Oleh karena itu, kita tidak bisa langsung memberikan jawaban tanpa terlebih dahulu mengetahui siapa Allah, tujuan manusia diciptakan, dan apa yang terjadi pada manusia.
Allah Sang Pencipta
Allah adalah Pribadi yang berada dalam kekekalan. Allah tidak bergantung pada
apapun, sementara segala sesuatu bergantung pada-Nya. Segala sesuatu diciptakan oleh Allah, seperti yang tercantum dalam kitab Kejadian 1: 1-2:7. Dalam kejadian 2:7, dinyatakan bahwa “TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah.” Ini menegaskan bahwa dalam Kejadian 1 tersebut, Allah menciptakan bumi dan segala isinya. Kata “menciptakan” dalam bahasa Ibrani “bara,” bukan “asa.” “Bara” berarti menciptakan sesuatu dari ketiadaan menjadi ada, Sedangkan “Asa” adalah menjadikan sesuatu dari suatu bahan yang sudah ada.13
Tujuan Manusia Diciptakan
Catatan Alkitab mengenai sejarah penciptaan menjelaskan bahwa tujuan Allah
menciptakan manusia adalah agar mereka memiliki kuasa atas ikan- ikan di laut, burung- burung di udara, ternak, serta seluruh bumi dan semua binatang melata (Kej. 1:26). Dalam ayat 28, perintah untuk menaklukkan dan menguasai bumi dijelaskan lebih lanjut, sementara pasal 2:15 menekankan tanggung jawab untuk mengelola bumi. Dari ketiga ayat tersebut,
13 Sutriatmo, “Konsep Keselamatan Di Dalam Yesus: Ketaatan Pada Firman Versus Ketaatan Pada Perbuatan,” Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 2, Maret (2022): 6.
dapat disimpulkan bahwa Allah menciptakan manusia untuk menguasai dan melestarikan bumi serta isinya. Manusia ditetapkan sebagai wakil Allah yang seharusnya menjalankan tugas ini, tetapi kenyataannya, manusia sering gagal untuk hidup sesuai dengan tujuan Allah tersebut.14
Dosa Asal
Peristiwa kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa di Taman Eden, setelah
dipengaruhi oleh, bukanlah yang awal, melainkan kisah tentang masuknya dosa ke dalam dunia. Kisah ini dimulai dalam kitab Kejadian, yang mengajarkan bahwa Allah menciptakan makhluk yang disebut “manusia” (Kej. 1: 26-28). Manusia adalah ciptaan yang dibuat “segambar” dengan Allah. Salah satu makna dari “segambar” ini adalah bahwa manusia diberi “akal budi,” yang membedakannya dari hewan, tumbuhan, dan makhluk lainnya. dengan akal budi tersebut, manusia memiliki pikiran dan kehendak bebas.15
Allah menyediakan segala sesuatunya untuk kebutuhan hidup manusia di Taman Eden namun, dalam Kejadian 2:16-17 bahwa “Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia, “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari kau memakannya, pastilah engkau mati.” Hal ini terlihat jelas ketika Allah menempatkan Adam dan Hawa di taman Eden. Mereka diberikan kebebasan untuk menikmati semua hasil dari pohon dan tanaman di taman, kecuali buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, yang dilarang untuk dimakan (Kej. 3:2-3). Namun, manusia melanggar perintah tersebut, dan pelanggaran inilah dikenal sebagai dosa.16
14 Panca Parulian S, Stefanus R. Budiman, Pemahaman Dasar Tentang Teologi Sitematika, 98.
15 Helga Margareth, “Suatu Tinjauan Terhadap Kejatuhan Manusia Ke Dalam Dosa Berdasarkan Kejadian Pasal 3.",” Экономика Региона 4, no. 2 (2017): 119.
16 Panca Parulian S, Stefanus R. Budiman, Pemahaman Dasar Tentang Teologi Sitematika, 98.
Akibat Dosa
Sebelum kejatuhan Adam dan Hawa kedalam dosa sangatlah terlihat sempurna.
Keberadaanya penuh dengan keharmonisan, terlihat antara hubungan Allah dengan manusia.17 Namun Sejak kejatuhan manusia pertama jatuh dalam dosa, dosa itu menyebabkan perpecahan.18 Ada beberapa akibat dosa yang menyebabkan perpecahan yaitu:
Yang pertama, Hubungan manusia dengan Allah mengalami perpecahan yang membentuk jurang pemisah yang sangat dalam dan jauh Yes 59:1-3, yang kemudian hubungan manusia dengan sesamanya juga mengalami perpecahan, selalu mempersalahkan dan saling menuduh,memiliki keangkuhan dan gengsing dalam pengakuan, penyesalan, juga bertobat. Selain dari pada itu hubungan dengan alam juga tidak bersahabat lagi, setelah Alam semesta dikutuk, yang harus berjuang berat dalam mencari rezeki (Kej 3:17-19), dan juga hubungan manusia terhadap dirinya sendiri mengalami kemerosotan, semakin gampang lelah, sakit yang pada akhirnya mati (bd. Kej 3:19).19 Itu merupakan salah satu akibat dosa.
Yang kedua, Akibat dosa menghilangkan damai sejahtra atau ketenangan (Yes 48:22; Mazm 55:4-5; Mat 27:3-4; Roma 3:17).20 Yang ketiga, masih tetap dalam kesinambungan akibat dosa yang membawa kepada kesengsaraan. Manusia pertama Adam dan Hawa harus sengsara dikatakan, Hawa kesakitan peluh ketika melahirkan. Adam penuh dengan kesengsaraan dengan melakukan pekerjaan menyambung kehidupan melalu mencari rezeki. Dan Si ular pun tidak luput dari kesengsaraan, akibat ulahnya menggoda manusia sehingga yang kemudian mengakibatkan si ular berjalan menjalar dengan perutnya dan debu tanahlah makanannya.
17 Jonar T.H Situmorang, Soteriologi Doktrin Keselamatan: Pengajaran Mengenai Karya Allah Dalam Keselamatan, 33.
18 Ibid,
19 Ibid,
20 Ibid, 34
Semua manusia dan segala sesuatu sengsara atau menderita ketika dosa masuk ke dunia.21 Yang keempat, Terakhir akibat dari dosa membawa kematian. Kematian. Kematian ini terbagi menjadi tiga macam, yaitu: Kematian Fisik, kematian rohani, dan kematian kekal (bd Rm. 5:21; Ef, 2:1-5; Mat 10:28 25:41; 2Tes 1:9; Ibr. 10:31; Why. 14:11).22
Secara sederhana berfikir harafiah, kejatuhan Adam dan Hawa kedalam dosa, membuat semua manusia keturunan Adam dan Hawa hidup dalam dosa Roma 3:10-12, 23 yangpada akhirnya juga terpisah dengan Allah. Sebagai dampak karena melanggar perintah Allah dalam (Kej. 2:16-17). Dengan demikian manusia harus mengalami kematian kekal dan menerima upah dosa yaitu maut (Roma 6:23a).23 Sejak manusia jatuh ke alam dosa, semua orang telah berdosa. Dalam keadaaan yang penuh dosa, manusia sangat membutuhkan keselamatan.24
Yesus Kristus sebagai Sumber Keselamatan
Allah telah menyediakan penyelamat untuk membebaskan manusia dari hukuman
dosa (Kej. 3:15). Dengan demikian, keselamatan merupakan inisiatif Allah bagi manusia,
bukan sebaliknya. Manusia tidak dapat menyelamatkan diri sendiri tanpa tindakan penyelamatan dari Allah. Manusia yang telah jatuh ke dalam dosa telah kehilangan kemuliaan Allah. Dalam konteks sejarah keselamatan yang disebut dalam kejadian 3:15, jelas bahwa keselamatan yang dimaksud adalah rencana Allah yang akan terwujud dalam pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib yang dihubungkan dengan (Yoh. 1:1).25
Janji keselamatan terwujud dalam diri Yesus Kristus, Anak Allah yang diberi tugas khusus untuk melaksanakan keselamatan. Dalam kisah kelahiran-Nya, Matius mencatat, “Dia
21 Ibid,
22 Ibid,
23 Panca Parulian S, Stefanus R. Budiman, Pemahaman Dasar Tentang Teologi Sitematika, 98.
24 Panca Parulian S, Stefanus R. Budiman, 98.
25 Sutriatmo, “Konsep Keselamatan Di Dalam Yesus: Ketaatan Pada Firman Versus Ketaatan Pada
Perbuatan,” 7.
akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Yesus memiliki kuasa untuk menyelamatkan karena Dia adalah Immanuel, yang berarti “Allah beserta kita” (Matius 1:21, 23). Dengan kedatangan-Nya ke dunia, Yesus Kristus membawa keselamatan bagi umat manusia dengan memperlihatkan kehadiran Allah yang nyata di tengah-tengah mereka. Melalui-Nya, dosa-dosa manusia dapat diampuni dan hubungan yang benar dengan Allah dapat dipulihkan.26
Keselamatan dalam Soteriologi Kristen adalah anugrah Allah yang bersumber melalui karya penebusan Yesus Kristus bagi semua umat manusia. Thiessen memaparkan hal yang sama dengan jelas yang mengatakan “Alkitab mengajarkan bahwa Allah telah menyediakan keselamatan melalui pribadi Putra-Nya. Sang Putra sudah diutus untuk menjadi manusia, mati ganti manusia, kemudian bangkit dari antara orang mati, naik kepada Allah Bapa, dan menghadap Allah atas nama orang percaya.27 Jadi jelaslah bahwa penebusan Yesus Kristus adalah perwujudan dari anugrah Allah bagi semua semua manusia berdosa di bumi, karena keberdosaan manusia menjadikan maut sehingga tidak bisa untuk menyelamatkan dirinya sendiri (Ef. 2:1). Untuk itulah manusia membutuhkan anugrah Allah supaya kembali dihidupkan dan melepaskan manusia dari konsekuensi dosa yang telah memisahkan kita dari Allah (Rm. 5:10; Ef. 1:7; 2Tim 1:9; Tit 3:5).
Anugrah di Dalam Alkitab
Istilah anugrah dalam Perjanjian Lama ialah “Khesed”. Istilah ini digunakan kurang
lebih 250 kali dalam Perjanjian Lama.28 Sedangkan dalam Perjanjian Baru kaya anugrah berasal dari kata dasar “kharis” yang berarti sesuatu yang mendatangkan kepuasan dan
26 Eli Adil Telaumbanua, “Berita Keselamatan Dan Pengenapannya Dalam Diri Yesus Kristus,” Jurnal Christian Humaniora 6, no. 2 (2022): 7, https://doi.org/10.46965/jch.v6i2.2270.
27 David Eko Setiawan, “Refleksi Pastoral Terhadap Konsep Keselamatan Dalam Universalisme Ditinjau Dari Soteriologi Kristen,” FIDEI: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika 1, no. 2 (2018): 258, https://doi.org/10.34081/fidei.v1i2.8.
28 Jonar T.H Situmorang, Soteriologi Doktrin Keselamatan: Pengajaran Mengenai Karya Allah Dalam Keselamatan, 11.
menjamin sukacita. Kata “kharis dalam Perjanjian Baru digunakan 155 kali, beberapa contohnya (Luk. 1:3; 2:52; Kis. 11:23; Rm. 11:6; 4:15 dan sebagainya.29
Simpulannya kasih karunia tidak mengandung arti adanya kebaikan pribadi sehingga layak mendatangkan imbalan. Namun ini mengandung makna yang berkaitan dengan ketidakpantasan menerima pemberian dari pihak yang lebih tinggi kepada pihak yang lebih rendah. Dalam konteks anugerah ilahi yang diberikan kepada manusia, ini juga mencakup ide tentang perjanjian dan pemilihan.30
Hasil Keslamatan
Kematian Kristus bersifat substitusionari, yang berarti bahwa Kristus mati untuk
orang-orang berdosa dan mengambil tempat mereka. Dalam hal ini, Kristus berfungsi sebagai pengganti yang menanggung hukuman yang seharusnya ditanggung oleh orang-orang berdosa. Kesalahan-kesalahan mereka diperhitungkan kepada-Nya sedemikian rupa sehingga Ia mewakili mereka dengan menanggung hukuman tersebut. Setiap individu yang percaya kepada Yesus Kristus akan memiliki dosanya ditanggung oleh-Nya (1 Petrus 2:24; Ibrani 9:28). Kristus menjadi substitusi bagi semua yang percaya kepada-Nya.31
Kemudian penebusan bagi orang percaya berarti bahwa mereka dibeli dari pasar budak dosa dan dibebaskan dari ikatan dosa. Harga yang dibayarkan untuk kebebasan ini adalah kematian Yesus Kristus (1 Korintus 6:20; 7:23; Wahyu 5:9). Kata selanjutnya Dampak dari penerimaan karya penyelamatan Allah melalui penebusan Kristus adalah rekonsiliasi. Pada dasarnya, manusia yang berdosa adalah musuh Allah (Yesaya 59:1-2; Kolose 1:21, 22; Yakobus 4:4). Namun, melalui kematian Kristus, permusuhan dan murka Allah diangkat (Roma 5:10). Setiap individu yang percaya kepada Kristus akan didamaikan dengan Allah.32
29 Ibid, 12
30 Ibid, 13.
31 Setiawan, “Refleksi Pastoral Terhadap Konsep Keselamatan Dalam Universalisme Ditinjau Dari
Soteriologi Kristen,” 260. 32 Ibid,
Terakhir dampanya adalah Justifikasi bahwa orang percaya yang menerima karya penyelamatan Allah dibenarkan dalam Kristus. Mereka yang beriman kepada Yesus Kristus dinyatakan benar. Justifikasi melibatkan dua aspek: pengampunan dan pengangkatan semua dosa, serta mengakhiri keterpisahan dari Allah (Kisah Para Rasul 13:39; Roma 4:6-7; 2 Korintus 5:19). Proses ini juga mencakup pelimpahan kebenaran kepada individu yang percaya, yang berhak menerima semua berkat yang dijanjikan kepada orang benar.33
Proses Keselamatan
Setelah memahami janji keselamatan yang terwujud dalam diri Yesus Kristus, penting
untuk mengeksplorasi proses keselamatan itu sendiri. Dalam konteks ini, dua elemen utama yang menjadi fondasi, yaitu iman dan pertobatan.
Iman
Dalam Perjanjian Lama, kata "iman" digunakan dengan istilah "emunah," yang
diterjemahkan dalam Septuaginta sebagai "pisteuo," istilah yang juga digunakan dalam Perjanjian Baru. Kedua istilah ini memiliki makna dasar yang sama, yaitu "faith" atau "setia." Secara teologis, iman diartikan sebagai keteguhan hati seseorang untuk terus percaya kepada Tuhan, terlepas dari situasi apa pun dan kapan pun. Secara praktis, Alkitab mendefinisikan iman sebagai dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1). Iman adalah satu-satunya jalan untuk menghadirkan kasih kurnia Allah dalam kehidupan seseorang. Tanpa iman tidak ada seorang pun dapat diselamatkan.34
Pertobatan
33 Ibid,
34 Christian Tirayoh et al., “Pandangan Teologi Terhadap ‘Doktrin Keselamatan’ Menurut Pandangan
Kristen,” 5.
Kata "pertobatan" berasal dari istilah Ibrani "nocham," yang berarti perasaan mendalam, baik perasaan menderita maupun perasaan terlepas dari sesuatu, serta istilah Yunani "metanoia," yang berarti berbalik arah. Pertobatan diartikan sebagai perubahan pikiran yang terjadi akibat pengetahuan yang diperoleh, yang meliputi penyesalan atas jalan hidup yang telah dijalani dan keputusan untuk mengikuti jalan hidup yang baru. Meninggalkan jalan hidup yang lama, yaitu kehidupan dalam dosa, dan beralih kepada jalan hidup yang baru, yaitu kehidupan dalam terang Kristus, adalah inti dari pertobatan. Pertobatan merupakan peristiwa yang wajib dialami oleh setiap orang yang ingin diselamatkan. Tuhan Yesus mengingatkan, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat" (Matius 4:17).35
Kesimpulan
Dapatlah disimpulkan dari seluruh pemaparan di atas bahwa konsep keselamatan
dalam Yesus Kristus, atau soteriologi, mengungkapkan karya penyelamatan Allah yang penuh anugerah bagi umat manusiaa yang terpisah oleh dosa. Melalui pemahaman mendalam tentang pengertian keselamatan dari berbagai penafsiran, kita dapat melihat bagaimana keselamatan tidak hanya bersifat individu, tetapi juga berakar dalam sejarah keselamatan yang diceritakan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Keselamatan dimulai dengan pengakuan akan dosa asal dan akibatnya, yang menciptakan kebutuhan mendesak untuk penebusan. Dalam hal ini, Yesus Kristus berfungsi sebagai sumber keselamatan yang melalui kematian dan kebangkitan-Nya menawarkan pengampunan dan rekonsiliasi dengan Allah. Hasil dari keselamatan ini mencakup justifikasi, yaitu pelimpahan kebenaran kepada orang percaya, serta kehidupan baru yang mengubah cara hidup dan pandangan mereka.
35 Christian Tirayoh et al., 6.
Proses keselamatan melibatkan iman, pertobatan, dan penerimaan akan anugerah Allah, yang merupakan langkah penting dalam hubungan yang benar dengan-Nya. Dengan demikian, pemahaman yang menyeluruh mengenai soteriologi tidak hanya memberikan pengetahuan teologis, tetapi juga menginspirasi transformasi spiritual dalam kehidupan sehari-hari setiap individu yang percaya. Keselamatan dalam Yesus Kristus adalah anugerah yang mengubah hidup dan mendatangkan harapan kekal bagi seluruh umat manusia.
Daftar Pustaka Charles C. Ryrie. Teologi Dasar 2. Yogyakarta: Andi, 2017.
Christian Tirayoh, Marlon, Yosep Anthonius, Retno Natanael, and Sarmauli. “Pandangan Teologi Terhadap ‘Doktrin Keselamatan’ Menurut Pandangan Kristen.” Indonesian Culture and Religion Vol:1. No, no. Indonesian Culture and Religion Issues (2024).
Jonar T.H Situmorang. Soteriologi Doktrin Keselamatan: Pengajaran Mengenai Karya Allah Dalam Keselamatan. Yogyakarta: ANDI, 2015.
Louis Berkhof. Teologi Sistematika Volume 4: Doktrin Keselamatan. Momentum Christian Literature, 2008.
Margareth, Helga. “Suatu Tinjauan Terhadap Kejatuhan Manusia Ke Dalam Dosa Berdasarkan Kejadian Pasal 3.".” Экономика Региона 4, no. 2 (2017).
Panca Parulian S, Stefanus R. Budiman, Dkk. Pemahaman Dasar Tentang Teologi Sitematika. Bandung: STT INTI PRESS, n.d.
Samarenna, Desti. “Konsep Soteriologi Menurut Efesus 2:1-10.” FIDEI: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika 2, no. 2 (2019):
Setiawan, David Eko. “Refleksi Pastoral Terhadap Konsep Keselamatan Dalam Universalisme Ditinjau Dari Soteriologi Kristen.” FIDEI: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika 1, no. 2 (2018): 250–69. https://doi.org/10.34081/fidei.v1i2.8.
Sulistya, Philipus Pada. “Konsep Keselamatan Dalam Perjanjian Lama.” Jurnal Pistis 11 (2013): 45–55. https://osf.io/zt65f/download/?format=pdf.
Sutriatmo. “Konsep Keselamatan Di Dalam Yesus: Ketaatan Pada Firman Versus Ketaatan Pada Perbuatan.” Jurnal Teologi Berita Hidup 4 (2022).
Telaumbanua, Eli Adil. “Berita Keselamatan Dan Pengenapannya Dalam Diri Yesus Kristus.” Jurnal Christian Humaniora 6, no. 2 (2022): https://doi.org/10.46965/jch.v6i2.2270.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Keselamatan” [artikel online] https://kbbi.web.id/selamat, [diakses] 08 Oktober 2024